Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
HARGA biji pinang kering panen di kawasan Provinsi Aceh, sejak empat hari terakhir, turun. Harga biji pinang itu sebelumnya Rp19.000 per kg (kilogram) sekarang turun menjadi Rp18.000 per kg.
Untuk menghindari harga murah, sebagian petani di provinsi ujung barat Indonesia itu menunda menjual hasil produksi panen. Mereka menyimpan dulu hasil perkebunan itu untuk menunggu harga kembali naik.
Pedagang pengumpul biji pinang dan berbagai hasil perkebunan di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireruen, kepada Media Indonesia, Kamis (19/3), mengatakan tidak tahu secara persis mengapa harga biji pinang turun. Apakah karena sedang memasuki musim panen raya atau disebabkn turunnya harga pasar dunia.
Baca juga: Sekelompok Warga Bandung Sukses Berkebun di Sudut Sempit
"Saya pantau harga di pasar dalam negeri sudah turun sedikit. Jadi harga saya beli dari petani sebelumnya Rp19.000 sekarang hanya sanggup Rp18.000 per kg. Kalau melebihi dari itu sudah tidak cocok lagi dengan harga jual kami" tutur Husaini.
Dikatakan Husaini, selama harga turun, sejak empat hari terakhir, pasokan barang dari petani berkurang. Itu karena mereka lebih memilih menunda menjual hasil panen pinang.
Setelah gabah pinang itu dijemur sampai kering, petani biasanya menyimpan dulu di tempat yang lebih aman. Apalagi kalau gabah yang kadar airnya sudah mengering, bisa tahan lebih lama dan awet.
"Sering kalau harga sudah naik, petani ramai-ramai menjual buji pinang tersiman itu. Bila kenaikan harga ketika berakhir musim panen, tentu selain banyak biji sudah terkumpul, lalu perolehan uang juga tidak sedikit" tambah Husaini MY yang juga pengurus FKA (Forum Kakao Aceh).
Adapun petani pinang di Kecamatan Keumala, Kabupaten Pidie, Zulfikar Yacob, meminta pemerintah mengontrol harga bij pinang di tingkat pasar domistik. Karena hal itu sangat berpengaruh terhadap pendapatan petani.
"Apapun produksi perkebunan atsu hasil pertaniah yang harganya tinggi, kesejahteraan petani juga semakin positif. Tapi bila harganya tidak stabil atau sering anjlok tentu mereka merugi dan tidak termotivasi lagi beraktivitas lebih banyak" tutur Zulfikar. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved