Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
SUASANA tak biasanya seperti sekolah di lain tempat. Para siswa bisa menikmati gedung ruangan berdinding tembok, ada bangku, kursi, lemari di setiap kelas yang nyaman untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).
Hal itu tidak terlihat di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Amin, Kampung Kewitu, Desa Nanga Bere, Kecamatan Lembor selatan, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Di madrasah itu, dinding bangunannya tembus pandang. Pada siang hari, gedung tersebut digunakan oleh para siswa dan guru sebagai tempat KBM. Sebaliknya, saat dingin malam, puluhan kambing piaraan warga setempat menempati seluruh ruang di sana. Hal ini jelas menimbulkan bau tak sedap, apalagi berlantai tanah yang mudah menyimpan lumpur berbau dari hasil kotoran ternak.
Rasa prihatin itu diungkapkan, Fadil Mubaraq Ata Nisar yang diunggah di akun facebooknya. Dia juga menyertakan foto kondisi ruangan kelas di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Amin tersebut.
Dalam postingan itu dia menyebut, meski akan memasuki usia kemerdekaan yang ke-76 tahun pada 2021, Indonesia ternyata masih belum mampu melaksanakan sila ke-5 Pancasila yang berbunyi, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
"Meski terjadi hampir di seluruh sendi kehidupan masyarakat, namun yang paling disoroti adalah bidang pendidikan yang masih tergolong jauh dari kata layak," tulis akun ini.
Seperti masih banyaknya sekolah-sekolah di Indonesia yang jauh dari kata layak pakai alias kondisinya masih memprihatinkan. Indonesia yang katanya sebagai negara kaya raya, tulis Fadil, nyatanya masih tak mampu mencukupi kebutuhan pendidikan yang baik bagi masyarakatnya.
Fadil mencontohkan potret kondisi bangunan dan ruangan kelas yang nyaris roboh ini, menjadi saksi masih buruknya kualitas sarana pendidikan di Indonesia. "Salah satunya adalah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Amin Kampung Kewitu yang berada pada wilayah Desa Nanga Bere Kecamatan Lembor selatan Kabupaten Manggarai Barat, terpaksa belajar di ruang kelas yang tak layak pakai," ujar Fadil.
Ia menjelaskan, bangunan sekolah yang dibangun pada tahun 2004, terbuat dari kayu balok dan sebagian dilengkapi bambu beratapkan seng telah lapuk di makan usia.
"Itu bangunan swadaya oleh masyarakat belum mendapatkan sentuhan dari pihak pemerintah. Sebanyak tiga ruangan menjadi pemandangan begitu miris jika berkunjung ke sekolah tersebut. Ketiga ruangan ini layak di sebut sebagai ruangan kelas rasa kandang kambing," beber Fadil Mubarok.
Tokoh Masyarakat setempat, Soleman Jusuf mengaku, gedung sekolah itu kerap menjadi tempat hunian ternak, baik kambing maupun sapi milik warga. Khususnya di malam atau di siang hari kala musim penghujan.
Aroma tak sedap menjadi konsumsi para siswa dan guru dalam proses belajar mengajar.
"Bangunan kelas yang berdinding bambu sudah lapuk termakan usia. Itu mengapa kambing atau sapi dengan mudah masuk kedalam ruangan pada malam harinya. Sehingga pada pagi hari para siswa di bawah pengawasan para guru membersihkan kotoran kambing tersebut baru bisa berlangsung proses belajar mengajar," ungkap Jusuf yang dihubungi melalui telepone, Rabu (17/3).
Selain berdinding bambu, jelas Jusuf, lantai sekolah masih beralas tanah sehingga menjadi pemandangan yang mengerikan juga memprihatinkan saat musim hujan. Air mengalir ke ruangan yang menimbulkan licin dan berlumpur.
"Ruangan kelas sekolah tersebut dibiarkan apa adanya, lantaran masyarakat tidak memiliki cukup dana untuk membangun gedung sekolah permanen. Pada beberapa kesempatan pihak sekolah sudah mengajukan proposal pembuatan gedung sekolah permanen, namun sejauh ini belum ada realisasi dari permintaan tersebut," ujar Jusuf. (OL-13)
Baca Juga: Sekolah Roboh, Siswa SD di Bekasi Belajar di Gudang
Program diawali dengan pemetaan kompetensi untuk mengukur kemampuan pedagogik dan kemahiran bahasa Inggris guru MTs dan MA, serta pelaksanaan program percontohan pelatihan.
Dana BOS tersebut dialokasikan untuk 31 ribu Raudhatul Athfal (RA) sebesar Rp428 miliar, serta Rp4,1 triliun bagi 52 ribu madrasah swasta di seluruh Indonesia.
MENTERI Agama Nasaruddin Umar merencanakan pembangunan Madrasah Terintegrasi di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mencakup jenjang RA, MI, MTs, hingga MA.
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlangsungan pendidikan keagamaan setelah terjadinya bencana Sumatra.
Dinara saat ini berada di Amerika Serikat sebagai penerima beasiswa penuh (full scholarship) dari Kedutaan Besar AS melalui program pertukaran pelajar.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menyatakan, capaian tersebut mencerminkan arah kebijakan pendidikan Islam yang semakin kompetitif dan adaptif.
SELAMA puluhan tahun, Indonesia terjebak dalam delusi bahwa mutu pendidikan bisa ditingkatkan hanya dengan menyuntikkan dana ke sekolah atau mengganti label kurikulum
Setelah tidur malam, kadar glukosa dalam tubuh menurun. Padahal, otak membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama untuk berpikir dan berkonsentrasi.
BELAKANGAN ini, ruang media sosial diramaikan perbincangan mengenai istilah 'bahasa ibu' yang memantik refleksi publik.
TEDxSVP mendorong peserta untuk melihat perubahan sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk tumbuh sekaligus memberi dampak positif.
Penguatan proses pembelajaran menjadi inti dari rangkaian Program CSR Bigger Dream Fase 3 yang digagas MMSGI bersama Yayasan Life After Mine Foundation (LINE).
Usia 58 tahun menjadi bukti perjalanan panjang dedikasi dan komitmen Labschool dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved