Selasa 26 Januari 2021, 09:42 WIB

Gara-Gara Demam Babi, Semua Pasar Babi di Sikka Ditutup

Gabriel Langga | Nusantara
Gara-Gara Demam Babi, Semua Pasar Babi di Sikka Ditutup

MI/Gabriel Langga
Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo

 

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Sikka, melalui Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, secara resmi menutup seluruh pasar ternak babi yang ada di wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Keputusan itu diambil  menyusul meningkatnya kematian babi yang terjadi pada Januari 2021.

Disampaikan Bupati yang biasa disapa akrab Robi Idong itu, meningkatnya kasus kematian ternak babi di Sikka itu disebabkan penyakit African Swine Fever (ASF).

Ada indikasi telah terjadi pemasukan babi dari wilayah Nagekeo, Ende, dan Flores Timur ke Kabupaten Sikka hingga ternak babi di Sikka juga terserang virus ASF atau demam babi hingga terjadi peningkatan kematian pada Januari 2021 ini.

Baca juga: Paus Terjebak di Lumpur, Warga Coba Selamatkan dengan Speedboat

Untuk mengantisipasi dan mencegah, kata Bupati Sikka, seluruh pasar ternak babi ditutup sementara hingga waktu yang tidak ditentukan.

"Pasar ternak babi yang ada di wilayah Sikka ini kita tutup sementara. Surat instruksinya sudah keluar dan kita sudah kirim ke setiap kecamatan, kelurahan hingga di tingkat desa," papar Bupati Sikka, Selasa (26/1).

Selain menutup pasar ternak babi, ia juga melarang warga memindahkan dan mengedarkan ternak babi dan daging babi serta produk olahan babi antardesa maupun kecamatan.

"Kalau memang ada kebutuhan mendesak seperti kedukaan harus seizin dinas pertanian Kabupaten Sikka. Selain itu babi dilarang beredar," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Mauritz da Cunha menyampaikan pada Januari 2021 ini sudah terdapat 500 babi yang mati di Kabupaten Sikka.

"Data yang ada pada kami terus meningkatkan kasus kematian babi di Kabupaten Sikka. Sampai saat ini, sudah ada 500 babi yang mati. Itu yang terdata di kami belum lagi babi yang mati lalu tidak dilaporkan ke kami," kata Mauritz.

Mauritz mengatakan pihaknya terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada peternak babi agar menjaga kebersihan kandang, pakan harus dimasak, dan jangan memasukan babi dari luar daerah.

"Perlu kami sampaikan sampai sekarang vaksinnya belum ada. Maka itu langkah kami berikan edukasi kepada warga. Langkah edukasi diharapkan bisa membuat peternak sadar. Namun terpenting kalau ada pemotongan babi lapor ke dinas agar diperiksa kesehatan babinya," kata Mauritz.

Ia mengatakan, surat edaran dari Gubernur NTT dan Bupati Sikka telah dikeluarkan. Namun ada yang masih memasukkan babi dari luar daerah sehingga pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan dinas teknis dan turun ke lapangan.

Mauritz berharap warga Sikka bersama pemerintah memerangi virus babi dengan melakukan pencegahan. (OL-1)

Baca Juga

westlandpeppers.com

Cabai Rawit di Gresik, Rp1.000 per Biji

👤M Yakub 🕔Senin 08 Maret 2021, 19:25 WIB
Konsumen berharap agar pemerintah bisa memperbaiki tata niaga cabai dan kebutuhan...
DOK MI

Berkas Kasus Korupsi Sekda Riau P21

👤Rudi Kurniawansyah 🕔Senin 08 Maret 2021, 19:04 WIB
Berkas kasus dugaan korupsi dengan tersangka Sekda Riau dinyatakan lengkap alias...
ANTARA

Selama Pandemi, Jumlah ODGJ di Cimahi Meningkat

👤Depi Gunawan 🕔Senin 08 Maret 2021, 17:25 WIB
Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Cimahi meningkat selama pandemi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya