Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Melakukan Konservasi Sambil Menyejahterakan Petani Kopi

Achmad Maulana
18/12/2020 17:00
Melakukan Konservasi Sambil Menyejahterakan Petani Kopi
Sejumlah ladang kopi milik petani.(Dok.Danone)

BENCANA yang terjadi di bumi sejatinya karena ulah manusia sendiri yang merusak alam. Itu sebabnya, sudah saatnya manusia bersahabat kembali dengan alam dengan melakukan konservasi.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Danone-AQUA bersama Yayasan Nirudaya, mengembangkan Kopi Tirto yang dibudidayakan dengan kaidah konservasi di berbagai daerah tangkapan air (catchment area) dengan ketinggian 400-1400 Dpl. Budidaya Kopi Tirto telah melibatkan lebih dari 120 petani dampingan yang tersebar di wilayah Jempanang Badung (Bali), Wonosobo (Jawa Tengah), Pandaan (Jawa Timur) dan Tanggamus (Bandar Lampung). Saat ini, produk Kopi Tirto sudah tersedia di pasaran untuk dinikmati para penikmat kopi tanah air.

Baca juga: Festival Kopi Media Indonesia Angkat Kualitas Pelaku Industri

Diungkapkan Budi Rahardjo, Agriculture and Economic Development Manager Danone Indonesia, kopi sebagai bagian dari tradisi masyarakat Indonesia perlu diperhatikan, mulai dari lingkungan tumbuhnya hingga kesejahteraan petani.

“Selain untuk memberikan kesejahteraan kepada petani, tujuan yang tidak kalah pentingnya dari inisiatif Danone-AQUA bersama Nirudaya ini adalah untuk bersama menjaga kualitas dan kuantitas air serta keberlanjutan lingkungan. Untuk itu, dibutuhkan pemahaman dari para mitra petani melalui berbagai pembekalan untuk dapat menerapkan sistem pertanian kopi yang ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan visi Danone One Planet.One Health yang kami percaya bahwa kesehatan dan keberlanjutan lingkungan adalah hal yang saling berhubungan,” jelas Budi dalam .

Senada, Martin Kreshna, Executive Director Yayasan Nirudaya berharap kemitraan dengan Danone-AQUA mendorong terwujudnya perdagangan kopi yang adil bagi petani dan lingkungan. “Kami menyambut baik inisiatif Danone-AQUA dalam melakukan pendampingan budidaya Kopi Tirto di berbagai area tangkapan air. Di sisi lain, kami berupaya untuk memasarkan kopi ini agar pendapatan petani meningkat,” ujar Martin dalam diskusi virtual pada Jumat (18/12).

Dia menambahkan bahwa Nirudaya mengajak partisipasi masyarakat dengan melibatkan anak muda desa untuk mau terjun ke usaha kopi. “Salah satunya adalah dengan melakukan pelatihan tentang standarisasi kualitas kopi dan roasting, dan pemasaran kopi. Harapan dari pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai tambah kopi konservasi dan adanya regenerasi profesi petani kopi. Peserta dari pelatihan itu hampir semuanya adalah anak muda di Desa Mlandi, Wonosobo.”

Kolaborasi Danone-AQUA dengan Nirudaya ini merupakan wujud dari aspirasi para petani mengenai ketersediaan pasar untuk hasil panen mereka. “Kesimpulan yang didapatkan dari penelusuran itu adalah konservasi akan dilakukan ketika kebutuhan ekonomi tercukupi dan sebaliknya, ekonomi tanpa konservasi juga akan sia-sia karena tidak ada keberlanjutan. Kami yakin kopi konservasi seperti Kopi Tirto akan diminati pasar ditengah semakin tingginya perhatian konsumen terhadap lingkungan,” jelas Martin.

I Ketut Kartika Yasa, petani kopi Tirto yang turut hadir mengungkapkan manfaat yang  dirasakan sejak mendapatkan pelatihan tentang budidaya kopi konservasi. “Sejak mengikuti program ini pada 2019, petani kopi di Badung (Bali) mulai merasakan manfaat dari segi peningkatan penghasilan. Kami juga tidak khawatir lagi dengan kekeringan karena tanaman kopi itu juga mampu menyerap atau menampung debit-debit air hujan. Karena air yang diserap nanti akan mengalir ke sungai-sungai,” jelas Yasa.

Yasa juga berharap agar kopi yang dibudidaya melalui program kopi konservasi ini bisa mendapatkan kualitas kopi yang terbaik. “Selama program ini berjalan kami selalu berusaha untuk berkembang. Dengan pendampingan dari Danone-AQUA kami berharap bisa menghasilkan kopi dengan kualitas yang baik dan diminati oleh para penikmat kopi tanah air,” ujarnya.

Keunikan Kopi Tirto adalah dari sisi budidayanya. Cara itu dilakukan dengan sistem agroforestri ramah lingkungan yang dilengkapi dengan pembuatan rorak. Sistem ini mampu membantu mengurangi air hujan langsung mengalir ke  permukaan yang lebih rendah dan mengoptimalkan peresapan air hujan ke dalam tanah sehingga turut berkontribusi terhadap konservasi air.
 
Pada kesempatan yang sama, Irvan Helmi, Ketua Dewan Pengurus Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI) menjelaskan dalam industri kopi yang semakin berkembang, terdapat hal-hal yang juga perlu diingat dan harus berjalan beriringan dengan kemajuan industri tersebut.

Semangat Kopi Tirto diharapkan dapat sejalan dengan para penggiat Organisasi Kopi Internasional Milan yang menjadikan 1 Oktober 2015 sebagai Hari Kopi Internasional. Pada momen tersebut dikampanyekan tentang perdagangan kopi yang adil serta kesejahteraan para petani kopi.  (RO/A-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Maulana
Berita Lainnya