Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPANJANG 2020, sebanyak 185 bencana terjadi di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Cuaca ekstrem masih mendominasi jenis kebencanaan di Kota Mochi itu.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami, menjelaskan meskipun terbilang sebagai kota kecil, tapi tingkat kerawanan kebencanaan di Kota Sukabumi relatif cukup tinggi. Pasalnya, sebagian wilayah Kota Sukabumi berada di kawasan tebing dengan kontur tanah yang cenderung labil. "Sepanjang tahun ini, kami mencatat sebanyak 185 kali kejadian berbagai bencana," kata Zulkarnain kepada Media Indonesia, Jumat (18/12).
Rincian jenis bencananya, kata Zulkarnain, terdiri dari banjir genangan sebanyak 32 kali, cuaca ekstrem sebanyak 80 kali, kebakaran sebanyak 17 kali, dan tanah longsor sebanyak 56 kali. Melihat data, jenis bencana yang mendominasi yakni cuaca ekstrem.
"Cuaca ekstrem ini biasanya terjadi hujan deras disertai angin kencang atau puting beliung. Akhir-akhir ini juga saat memasuki musim hujan, beberapa kali terjadi cuaca ekstrem hingga mengakibatkan pohon tumbang, tiang roboh, dan sebagainya," ucap Zulkarnain.
Zulkarnain menuturkan semua wilayah yang terdiri dari 7 kecamatan di Kota Sukabumi dikategorikan rawan bencana. Hal itu dibuktikan dengan sebaran kejadian bencana sebanyak 185 kali terjadi di semua wilayah kecamatan.
Data BPBD, di Kecamatan Baros terjadi 16 kali bencana, di Kecamatan Lembursitu sebanyak 15 kali bencana, di Kecamatan Cibeureum terjadi 19 kali bencana, di Kecamatan Citamiang sebanyak 42 kali bencana, di Kecamatan Warudoyong terjadi 25 kali bencana, di Kecamatan Gunungpuyuh terjadi 40 kali bencana, dan di Kecamatan Cikole sebanyak 28 kali bencana.
"Citamiang dan Gunungpuyuh relatif cukup banyak kejadian bencana selama tahun ini," pungkas Zulkarnain.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Imran Whardhani, mengatakan Kota Sukabumi sudah menetapkan status siaga darurat banjir dan tanah longsor yang tertuang pada Surat Keputusan Wali Kota Sukabumi Nomor 188.45/186-BPBD/2020 tentang Status Keadaan Siaga Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Kota Sukabumi.
Dasar pertimbangannya, kata Imran, prediksi BMKG soal intensitas curah hujan tinggi pada November 2020-Mei 2021 serta hasil webinar dengan BNPB tentang rencana kontijensi menghadapi potensi bencana La Nina. "Atas berbagai pertimbangan tersebut, maka dipandang perlu untuk segera menetapkan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor," terang Imran.
Status siaga darurat banjir dan tanah longsor di Kota Sukabumi berlaku mulai 1 November 2020 hingga 31 Mei 2021. Selama diberlakukannya status siaga darurat, BPBD dan perangkat daerah terkait meningkatkan kesiapsiagaan kebencanaan dengan tujuan meminimalkan dampak banjir dan tanah longsor.
"Begitu juga pada upaya penanganan seandainya terjadi banjir dan tanah longsor agar dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu," pungkas Imran. (R-1)
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
GERAKAN Pemuda (GP) Ansor kembali mendistribusikan bantuan terhadap korban terdampak bencana banjir di Kabupaten Pekalongan.
Grup UT akan terus memantau perkembangan situasi di wilayah terdampak serta memperkuat sinergi dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah
Peninjauan banjir Pekalongan dilakukan untuk memastikan keselamatan warga terdampak sekaligus mengecek kesiapan penanganan banjir secara berlapis.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, serta mitra swasta terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.
Berdasarkan hasil kajian tim Kementerian PU bersama Universitas Syiah Kuala (USK) ditemukan adanya pergerakan air bawah tanah yang memicu ketidakstabilan lereng.
DPR minta pemerintah prioritaskan pencegahan dan mitigasi bencana untuk kurangi kerugian ekonomi yang terus berulang di Indonesia.
ADA dua artikel yang ditulis Phil O’Keefe, Ken Westgate, dan Ben Wisner dalam dua tahun berturut-turut: 1976 dan 1977.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti alih fungsi lahan dan menurunnya daya dukung lingkungan sebagai faktor utama yang memperparah dampak bencana alam.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut, tanah longsor tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved