Jumat 27 November 2020, 06:58 WIB

Melon di Tangan Pendeta

Palce Amalo | Nusantara
Melon di Tangan Pendeta

MI/PALCE AMALO
Petani berada di tempat budidaya melon di areal persawahan Oepoi di Kelurahan Oebufu, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

 

MUSIM tanam dua tahun terakhir, Nara Adi dan petani lainnya di Persawahan Oepoi, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur tidak menanam padi karena persediaan air terbatas.

Hasil panen terakhir pada 2018 dari lahan 80 are miliknya sebanyak 80 karung yang kalau diuangkan sebesar Rp5 juta.

"Kalau tidak menanam padi karena kekeringan seperti sekarang, saya ganti profesi jadi sopir, petani lainnya juga ganti profesi seperti menjadi pekerja bangunan," kata Nara Adi, Sabtu (21/11) lalu.

Baca juga: Penyuluh Ajak Petani Barito Timur Manfaatkan Lahan Tidur

Sampai suatu siang di pertengahan Mei 2020, beberapa pendeta yang tergabung dalam komunitas 'Pendeta Suka Tani' bentukan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), melintas di jalan dekat persawahan.

Mereka mampir dan melihat kondisi persawahan. Kebetulan, saat itu, gereja meluncurkan program pemberdayaan ekonomi jemaat yang terdampak pandemi covid-19.

"Kita dekati petani dan mereka setuju lahan diolah bersama," ujar Pendeta Jefri Watileo dari Komunitas Pendeta Suka Tani.

Setelah ada kesepakatan bersama antara petani, pekerja, dan pemodal dari komunitas tersebut, lahan yang berjarak sekitar 500 meter dari kantor gubernur NTT itu mulai diolah.

Mereka membangun sumur bor yang kemudian dihubungkan dengan pipa ke puluhan bedeng yang di atasnya telah ditanami 1.700 benih melon jenis madesta, alisha, dan alina.

Pada pekan ketiga November, melon telah memasuki masa panen yang diperkirakan menghasilkan 3.400 buah dengan berat bervariasi antara 1-2 kilogram per buah.

Kini, buah melon rutin dipasok ke sejumlah supermarket di Kota Kupang seharga Rp20.000 per kilogram namun warga yang melintas juga boleh mampir untuk membeli melon.

Sesuai hasil hitungan, tambah Pendeta Jefri, setelah dikurangi biaya modal, pendapatan bersih sekitar Rp30 juta. Bukan itu saja. di lahan tersebut juga mulai ditanami cabai sebanyak 12 ribu pohon.

Dia memperkirakan pendapatan kotor dari hasil panen cabai selama 5-6 bulan mencapai Rp160 juta.

Budidaya melon dan tanaman lainnya di lokasi itu sebagai pilot project untuk merangsang petani lainnya di era pandemi. Adapun pendapatan yang diperoleh Nara dari budidaya melon sekitar Rp10 juta, dua kali lipat dari hasil panen padi.

"Karena dari hasil panen melon saja, telah mendatangkan kesenangan bagi keluarga saya," katanya.

Harapannya, hasil panen melon yang melimpah itu mendorong petani setempat mengikuti jejak Nara Adi. Tidak hanya melon tetapi juga tanaman lainnya. Apalagi untuk urusan perawatan tanaman hingga penjualan hasil panen juga dibantu komunitas pendeta suka tani. (OL-1)

Baca Juga

MI/Martinus Solo

Tingkatkan Jiwa Wirausaha, Sorong Buka Sekolah 'Aisyiyah

👤Martinus Solo 🕔Senin 25 Januari 2021, 14:52 WIB
Kewirausahaan merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi. Dengan banyaknya orang berwirausaha tentu akan banyak...
DOK/POLSEK DENPASAR SELATAN

Polsek Denpasar Selatan Ungkap Kasus Pembunuhan Perempuan Slovakia

👤Sugeng Sumariyadi 🕔Senin 25 Januari 2021, 14:50 WIB
Pembunuhan dilakukan mantan pacar korban. Ia sakit hati karena putus...
MI/Lilik Darmawan

Bupati dan Ketua DPRD Banyumas tak Ikut Divaksin

👤Lilik Darmawan 🕔Senin 25 Januari 2021, 14:46 WIB
"Saya seharusnya ikut, tetapi karena usia sudah di atas 60 tahun, maka tidak diperbolehkan. Padahal, sudah memaksa, tetapi karena...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya