Headline
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kumpulan Berita DPR RI
TAK pernah terbayangkan sebelumnya, perjuangan sosialnya untuk mengangkat martabat kaum difabel mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo. Pada 20 Desember 2019 lalu, Irma Suryati, 45, seorang penyandang disabilitas asal Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng) diganjar Satya Lencana Kebaktian Sosial. Penghargaan itu membuktikan bahwa dia telah berjasa dalam bidang kesejahteraan sosial, melakukan kegiatan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas dan karya yang berdampak positif bagi masyarakat.
Perjalanan seorang Irma tak bisa dilepaskan dari disabilitas. Ia juga seorang difabel. Kakinya mengalami lumpuh akibat polio sejak usia 4 tahun. Irma yang pernah mengalami pahit getir sebagai penyandang disabilitas bertekad untuk memperjuangkan teman-temannya sesama kaum difabel. Konsistensi perjuangannya memang tidak pernah sia-sia. Berbagai penghargaan telah diraihnya dan akhirnya sampai pada Satya Lencana Kebaktian Sosial.
"Jadi setelah memperoleh penghargaan itu, saya langsung mendapat banyak undangan di seluruh Indonesia. Jadi, saya telah merencanakan untuk keliling ke berbagai wilayah di Indonesia tahun ini. Tetapi semuanya jadi ambyar karena pendemi Covid-19. Seluruh undangan terpaksa ditunda," ungkap Irma kepada mediaindonesia.com, Selasa (3/11).
Itu dampak secara personal, efek lain yang tak kalah dahsyat adalah menurunnya omset tempat usahanya yakni Mutiara Handycraft.
"Salah satu usaha yang kami lakukan dengan melibatkan para penyandang disabilitas adalah pembuatan keset dengan bahan baku kain perca. Ketika pandemi datang, omset turun tajam hingga 50%. Bahkan, untuk mendapatkan bahan baku dari pabrik-pabrik saja susah, karena mereka juga terkena dampak dan banyak yang tutup," lanjutnya.
Pengalaman Irma yang telah mengalami jatuh bangunnya usaha, membuat dirinya tidak patah semangat. Kebetulan, sahabat Irma, artis Bertrand Antolin memberikan ide agar membuat masker. Ketika awal pandemi, masker menjadi satu barang yang sulit diperoleh.
"Atas ide itulah, saya mencoba-coba membuat masker. Tidak terlalu sulit, apalagi sebelumnya sudah terbiasa menjahit keset. Dari situlah, saya juga mengajak penyandang disabilitas dan ibu-ibu untuk membuat masker. Jumlahnya sekitar 1.000, belum termasuk usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) yang tersebar di Kebumen, Banyumas, Solo, Boyolali, Magelang dan Semarang," jelasnya.
Begitu bisa, rezeki mulai mengalir. Salah satu pemesan terbesar adalah Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat dengan jumlah awal sebanyak 100 ribu buah masker.
"Mbak Rerie (Lestari Moerdijat) memesan sampai 100 ribu buah. Ini merupakan berkah pada saat pandemi. Ketika omset pembuatan keset anjlok, maka adaptasi yang dilakukan adalah membuat masker. Nyatanya, kemudian ada yang pesan sampai begitu banyak. Jelas saya sangat bergembira, karena secara otomatis para penyandang disabilitas, ibu-ibu rumah tangga dan UMKM yang menjadi teman bisnis juga akan mendapat rezeki. Alhamdulillah, pemesanan bisa dilaksanakan dengan baik," ujarnya.
Hingga kini, Irma bersama kaum difabel yang menjadi mitra kerjanya masih terus menggarap pesanan. Bahkan, para artis juga pesan ke tempat Irma.
"Itu teman-temannya Mas Bertrand juga banyak yang pesan. Jumlahnya mencapai ribuan. Selain itu, dinas dan pemerintah juga ikut memesan masker kepada kami. Sehingga seluruh mitra saya ajak semuyanya. Baik yang menjahit maupun menyablon. Saya benar-benar tidak menyangka sebelumnya, karena ternyata ada jalan untuk dapat bertahan," kata Irma.
Sisihkan 20% Keuntungan
Irma mengatakan selain masker, ia bersama para mitranya juga memproduksi face shield dan alat pelindung diri (APD) berupa baju hazmat.
"Jadi, kami menghasilkan tiga produk yakni masker, face shield dan APD. Yang paling banyak omsetnya adalah pembuatan masker. Inilah yang membedakan antara bisnis sebelum pandemi dan setelah korona datang. Jika sebelumnya, andalan kami adalah keset, maka kini berganti menjadi masker," ungkapnya.
Irma mengakui, omset sebelum pandemi masih jauh lebih tinggi kalau dibandingkan dengan pada masa Covid-19. Demikian juga dengan ongkos untuk para perajin baik penyandang disabilitas maupun para ibu rumah tangga.
"Kalau membuat keset, ongkos jahitnya bisa mencapai Rp15 ribu, namun jika menjahit masker Rp600 per buah. Tetapi tidak masalah, karena kondisinya memang lagi prihatin. Kami bersama-sama ingin menghargai sekecil apapun pendapatan. Alhamdulillah, mereka juga masih tetap semangat. Sebab, pembuatan masker tidak serumit mengerjakan keset. Apalagi satu hari satu orang bisa menghasilkan ratusan masker," lanjutnya.
Bagi Irma, omset yang terjun bebas, tak membuat jiwa sosialnya berubah. Sejak terjun sebagai wira usaha, Irma sudah berjanji untuk menyumbangkan sebagian pendapatan guna kemaslahatan bersama.
"Sejak tahun 2002 silam, ketika menekuni kerajinan keset, saya menyisihkan 20% pendapatan untuk sosial. Meski sekarang kondisinya mengalami penurunan omset, tetapi menyisihkan 20% untuk berbagi tetap kami lakukan. Bagi saya, ini sesuatu hal yang harus tetap dilaksanakan. Tentu, nilainya akan menyesuaikan dengan jumlah omset dan keuntungan," jelasnya.
Sejak awal pandemi, dia bersama dengan mitranya menggelar bakti sosial kepada masyarakat tak mampu. Ada paket sembako yang diberikan kepada mereka yang terdampak Covid-19. Paket sembako tidak saja untuk orang dewasa, melainkan juga diperuntukkan bagi balita. Jumlah sembako yang dibagikan setiap bulannya bervariasi, minimal 1.000 paket sembako. Pada akhir Oktober, dia memberikan bantuan kepada para korban banjir di sekitar Kebumen.
"Prinsip saya, kalau memberi itu akan mendatangkan rezeki. Karena itulah, berbagi tidak mengenal kondisi, termasuk saat terjadi pandemi," ujar dia.
Kegiatan sosial yang dilakukan selama pandemi kebanyakan insidental, karena tidak terjadwal sebelumnya. Namun, sesungguhnya sudah ada program lain yang terus berjalan secara rutin. Yakni membiayai sekolah anak-anak penyandang disabilitas.
"Belum banyak, baru sekitar lima anak. Kami ingin, agar anak-anak kaum difabel tetap memiliki cita-cita tinggi dan lebih hebat dari orang tuanya. Mereka juga nantinya yang akan mengangkat martabat penyandang disabilitas. Itu salah satu tujuannya," kata Irma.
baca juga: Tetap Bertahan Berkat Stimulus Bantuan
Ia mengungkapkan penyandang disabilitas sejatinya malah lebih tahan banting. Soalnya, pada kondisi normal saja masih banyak yang tersingkirkan dan butuh perjuangan ekstra. Sehingga ketika terjadi pandemi, kaum difabel yang telah terbiasa bekerja keras sanggup untuk secepatnya beradaptasi. Ketika awal pandemi memang sempat ambyar, kemudian beradaptasi, sehingga bisa bangkit dan sekarang mulai berkibar. (OL-3)
PULUHAN pelaku usaha kecil mengikuti pelatihan pembuatan produk inovatif dalam Program Desa EMAS (Ekonomi Maju & Sejahtera) 2026 di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
BGN menegaskan dapur SPPG Program Makan Bergizi Gratis tidak boleh bergantung pada sedikit supplier. UMKM, petani, peternak, dan nelayan lokal wajib dilibatkan sebagai pemasok.
Seluruh tenant UMKM bersama penyelenggara memastikan kualitas serta higienitas makanan dan minuman melalui pengawasan berkala.
Ia kini sukses membesarkan Reihani Tenun Batik Batak Melayu sebagai salah satu ikon UMKM di Sumatra Utara.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyapa 850 Bunda Ojol dan 455 jemaah di Islamic Center Surabaya jelang Ramadhan 1447 H, serahkan bantuan Baznas dan paket sembako.
KOMITMEN mendukung pembangunan yang dimulai dari desa guna mendorong pemerataan ekonomi dan mempercepat pengentasan kemiskinan terus dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia.
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mendesak pemerintah antisipasi kenaikan jumlah penyandang disabilitas melalui layanan publik dan puskesmas ramah disabilitas.
Fokus utama KND bukan sekadar pada perolehan medali, melainkan memastikan negara hadir dalam memberikan hak yang setara bagi atlet disabilitas.
Lestari Moerdijat mengatakan pemenuhan hak anak berkebutuhan khusus (ABK) dan disabilitas harus terus digencarkan di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pendidikan.
Kisah Grisna Anggadwita menunjukkan bagaimana pemberdayaan dan pendekatan manusiawi membuka peluang ekonomi inklusif.
Sejumlah pekerjaan rumah dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di tanah air harus dituntaskan.
Kegiatan ini lahir sebagai respons atas masih adanya kesenjangan antara potensi penyandang disabilitas dengan realitas praktik rekrutmen di dunia kerja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved