Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
MEMASUKI 2020, anak-anak muda yang bergabung dalam Sekolah Inspirasi Pedalaman (SIP) menyambutnya dengan optimistis.
Sejumlah program telah disiapkan untuk membantu anak-anak pedalaman di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Namun, pandemi datang. Langkah panjang demi kebaikan generasi muda di Banjarnegara diubah menjadi langkah pendek, tapi tetap melangkah.
“Mungkin, ini saatnya bagi kami, para fasilitator untuk mengisi diri. Mundur selangkah untuk maju lebih cepat, setelah pandemi berlalu,” kata Koordinator SIP
Maitsa Putri Shafa SIP adalah kumpulan mahasiswa dan pelajar SMA asal Banjarnegara yang bergerak untuk memberikan tambahan pengetahuan bagi anak-anak di pinggiran.
Mereka juga bergerak untuk anak-anak di daerah yang terpapar bencana. “Saat mulai pandemi, Februari dan Maret, kami mengubah program tidak turun
ke lapangan. SIP menggelar Nongkrong Inspirasi (Nongki) untuk menambah motivasi dan pengetahuan para fasilitator,” lanjut Maitsa yang akrab disapa Eta.
SIP mengundang seorang aktivis perempuan yang membaktikan diri dalam kerja pemberdayaan di Kalimantan Utara, yakni Sebatik. Fatimah Madjid, aktivis itu
membagikan program pemberdayaan dan pendampingan yang ia lakukan di wilayah perbatasan terpencil.
Pada Maret, SIP memutuskan untuk tidak menerjunkan anggotanya ke desa-desa. “Kami harus beradaptasi, dengan tidak memaksakan diri terjun ke
masyarakat,” lanjut Eta.
Sejak April hingga Agustus, seluruh kegiatan Nongki juga dilaksanakan secara daring, termasuk rapat-rapat dengan para pendamping. Sesekali mereka menggelar
pertemuan terbatas tatap muka, jika menyangkut persoalan yang penting.
“Jika sebelumnya kami berbagi ilmu dengan anak-anak di pedalaman, kini saatnya kami dibagi ilmu oleh para ahli di bidangnya untuk menambah pengetahuan
para fasilitator,” tambahnya.
Beberapa ahli dihadirkan secara daring. Mereka berbagi ilmu terkait kesehatan mental saat pandemi, home schooling, juga pendidikan berbasis fi trah.
Materi-materi itu dinilai penting untuk menghadapi pandemi. Seperti banyak warga lain, anak-anak SIP juga tinggal di rumah, sehingga rentan stres.
Suntikan dari ruang-ruang daring itu membuat mereka tersemangati lagi. Mereka tidak hanya mendapat ilmu, tapi juga dapat menerapkannya dalam
keluarga.
Kemampuan pendampingan juga terasah dengan bahan soal pendidikan berbasis fi trah. “Selama ini, kami mendampingi anak-anak pedalaman untuk mampu menggali kemampuan dan talenta mereka,” terangnya.
Tahun ini, SIP menggali dan mengasah. “Tahun depan, itu akan menjadi modal untuk terjun kembali demi anakanak pedalaman,” tandas Eta. (LiliekDharmawan/N-3)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved