Minggu 23 Agustus 2020, 04:56 WIB

Menyemai Energi Bertani di Lahan Sejengkal

AT/J-1 | Nusantara
Menyemai Energi Bertani di Lahan Sejengkal

MI/ARDI TRISTI
Seorang ibu merawat tanaman hidroponik di depan rumahnya di Sambilegi Kidul, Yogyakarta, Rabu (19/8).

 

MATAHARI sudah hampir di atas kepala. Setiati tampak sibuk dengan tanaman hidroponik di pekarangan rumah yang terbatas. Di dekat tempatnya berdiri, terdapat sebuah ember yang digunakan untuk budi daya lele.

“Saya sudah memanen 5 kilogram (kg) lele dari satu depot ember yang dibudidayakan dalam kurun waktu 2,5 bulan,” terang Sekretaris Kelompok Wanita Tani (KWT) Arimbi itu di Sambilegi Kidul, kemarin. Selain itu, ada pula aneka sayuran yang telah dipanen, seperti kangkung, selada, tomat, dan terong.

Ia bersyukur, dengan menanam aneka sayur dan budi daya ikan di halaman rumah, kebutuhan makanan bisa mudah didapatkan. Hasil panennya saat ini masih dinikmati sendiri bersama beberapa tetangga.

“Ibu-ibu di sini senang dengan kegiatan ini karena bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” kata dia. Di sisi lain, mereka juga bisa menjaga lingkungan karena ada pula pelatihan pengelolaan sampah dan limbah.

Energi bertani harus tetap disemai walau memiliki lahan terbatas. Itu pula yang dilakukan Pertamina melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Adi Sutjipto dengan program Sejengkal Halaman Gizi Keluargaku di Padukuhan Sambilegi Kidul, Kelurahan Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Unit Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Marketing Operation Region IV Jawa Bagian Tengah Anna Yudhiastuti menjelaskan program ini mendorong masyarakat agar dapat memanfaatkan pekarangan rumah. “Meskipun sempit, pekarangan rumah bisa menghasilkan sumber makanan bergizi,” jelas Anna.

Masyarakat di Padukuhan diajari memanfaatkan lahan sempit. Sekitar enam bulan berjalan, masyarakat mulai mampu menjalankan pertanian hortikultura dan budi daya perikanan air tawar secara terintegrasi.

Tanaman yang dibudidayakan ialah aneka sayuran, seperti kangkung, selada, tomat, dan terong. Sementara itu, jenis ikan yang dibudidayakan ialah lele dengan memanfaatkan minimal satu ember.

Masyarakat sudah memanen 180 kg lele dan 45 kg kangkung. Hasil panen langsung didistribusikan kepada masyarakat, utamanya keluarga yang membutuhkan asupan gizi lebih.

“Cara ini mampu memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat, khususnya bagi anak dalam mencegah stunting,” papar Anna. Pada masa pandemi covid-19, program ini sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan dari halaman sendiri dan menghindari keramaian guna mencegah penyebaran virus korona.

Program ini diikuti 18 dasawisma atau 180 kepala keluarga di Padukuhan Sambilegi Kidul. Nantinya pihaknya akan mendorong agar program ini dapat terus dikembangkan hingga setiap keluarga dapat menjalankan cocok tanam dari halaman sendiri.

Tidak hanya kegiatan pertanian dan perikanan, program Sejengkal Halaman Gizi Keluargaku juga menggelorakan inovasi zero waste atau pemanfaatan limbah agar bisa memberikan nilai tambah. Masyarakat juga diberikan pelatihan dan pemahaman mengolah pupuk organik dari limbah dapur atau rumah tangga tiap-tiap keluarga.

“Limbah dari hasil panen tanaman juga dijadikan bahan baku pakan bagi lele yang diternak. Sementara itu, kotoran lele dalam ember menjadi nutrisi air untuk menyirami tanaman di atasnya,” jelas dia.

Operation Head DPPU Adi Sutjipto, Sukmawijaya, berharap program ini dapat memberdayakan masyarakat Sambilegi Kidul sehingga bisa mandiri. “Program ini diharapkan bisa membantu meningkatkan perekonomian dan gizi keluarga,” pungkas Sukmawijaya. (AT/J-1)

Baca Juga

MI/Gabriel Langga

Desa Tilang Nikahkan Ratusan Pasangan secara Gratis

👤Gabriel Langga 🕔Selasa 17 Mei 2022, 12:22 WIB
"Tahun ini ada sekitar 111 pasangan akan kita nikahkan secara bertahap. Proses pembiayaan pernikahan ditanggung oleh desa melalui...
Antara/Galih Pradipta.

Era Jokowi Dinilai Beri Banyak Ruang bagi Pengusaha Milenial

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 17 Mei 2022, 10:55 WIB
Di sisi lain, era digital juga semakin membuka ruang bagi pengusaha muda untuk mengakses dukungan teknologi dalam menjalankan...
MI/Gabriel langga

Pelaku Usaha Nilai Sektor Riil di NTT Belum Digarap Serius

👤Gabriel Langga 🕔Selasa 17 Mei 2022, 10:35 WIB
KALAU NTT mau keluar dari kemiskinan itu wajib punya sektor riil minimal 50 persen.  Hanya dengan sektor riil maka NTT bisa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya