Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
HAMPIR seluruh petani di Nusa Tenggara Timur masih mengelola lahan pertaniannya dengan sistem manual. Berbeda dengan seorang petani muda di Kabupaten Sikka. Ia memilih mengelola tanaman holkilturanya dengan menerapkan sistim pengairan irigasi tetes yang dapat menghemat air dan pupuk.
Untuk menyiram tanaman holkilturantnya, dirinya hanya mengunakan sebuah aplikasi berbasis android di ponselnya.
Kepada mediaindonesia.com, Minggu (28/6), Yance Maring yang berusia 27 tahun ini mengatakan, untuk menerapkan sistem irigasi tetes, dirinya rela mengeluarkan uang sekitar puluhan juta rupiah untuk membeli peralatan irigasi tetes.
"Peralatan ini saya datangkan langsung dari Cina. Saya pesan secara online. Sekitar Rp50 juta saya habiskan untuk membeli peralatan yang digunakan hanya untuk satu hektar. Harga paling mahal itu, selang drip yang sudah ada lubang dari pabriknya," paparnya.
Yance Maring menuturkan, ketika peralatan datang, ia mulai melakukan pemasangan dengan terlebih dahulu mengukur total panjang bedengan yang akan dipasang selang drip itu.
"Semua instalasi saya kerjakan sendiri. Baru saya mulai tanam khusus tanaman hortikultura seperti tomat, lombok besar dan lombok kecil dengan sistem irigasi tetes," terang Yance Maring itu.
Ia mengaku, dengan menggunakan sistem irigasi tetes ini, kita bisa menghemat air. Yang mana, kita bisa mengatur seberapa banyak air yang akan diberikan kepada tanaman kita sesuai dengan kebutuhan dan umur tanaman.
Selain itu, kata dia, dari segi pemupukan, pupuk bisa langsung dicampur dan dilarutkan ke dalam air sehingga nutrisi tanaman juga kita bisa kontrol.
"Sistem irigasi tetes ini sebenarnya kita menyiram sekaligus memupuk tanaman kita," jelas dia.
Dikatakannya, untuk menyiram tanaman hortikultura, ia menggunakan aplikasi android yang sudah didownload di ponselnya. Saat ia menekan aplikasi khusus di ponselnya, aplikasi ini mengirim perintah ke peralatan yang terpasang di kebunnya yang berada di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat.
Secara otomatis, alat tersebut menyiram tanaman hortikultura nya melalui instalasi air yang telah terpasang di kebunnya. "Alat instalasinya saya suruh teman-teman di Jawa yang buat. Jadi saya
siram pakai ponsel saja. Kalau radius 100 meter dari kebun, saya bisa pakai Wifi untuk siram. Kalau saya berada di luar daerah, saya tinggal SMS saja. Nanti air keluar sendiri dan mati sendiri. Waktunya siram tanaman itu, pasti ada pesan masuk lewat ponselnya. Intinya harus ada pulsa data," ungkap dia.
Yance Maring mengaku, ia baru menggeluti tanaman hortikultura, ketika dirinya mengikuti pelatihan pertanian internasional di AICAT University. Selama 11 bulan, ia belajar pertanian di Israel.
"Di sana, kita belajar langsung praktek. Di tempat praktek itu kita dibayar perjam. Uang itu saya kumpulkan. Saat saya pulang ke Indonesia, honor yang dikumpulkan itu sekitar Rp30 juta. Uang itu saya mulai gunakan untuk kontrak lahan satu hektar senilai Rp4 juta pertahun," ucapnya
Dikatakannya, awalnya ia mulai menanam tomat, cabe dan jagung di bulan Juli 2019 dengan sistem manual. Dia mengaku, uang dari hasil panennya secara manual, ditambahkan untuk membeli seluruh peralatan irigasi tetes.
"Saat ini saya belum bisa pastikan berapa keuntungan dari tanaman hortikultura ini, Saya belum bisa pastikan. Kalau saya kalkulasikan dari hasil tanaman ini bisa kembalikan modal saya. Tunggu bulan depan baru bisa dipastikan, kan sudah panen," pungkas Yance Maring. (OL-13)
Baca Juga: Penyuluh Sumbawa Dampingi Petani Bawang Merah Serading
SERANGAN organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memaksa para petani mengambil langkah ekstrem.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing. Kunjungan pertama dalam 8 tahun ini menjadi titik balik hubungan kedua negara.
Kalau kita kelompokkan petani pangan, persentase petani yang di atas 55 tahun jauh lebih besar.
Menlu RI Sugiono menegaskan komitmen Indonesia-Turki memperkuat kerja sama industri, produk halal, dan pertanian saat bertemu Presiden Erdogan di Istanbul.
Di sektor pertanian, penerapan pertanian organik dan sistem pertanian yang berkelanjutan menjadi pilihan utama.
SEORANG petani milenial sekaligus pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu mengolah kopi arabika hingga menyebar ke penjuru Tanah Air, bahkan ke mancanegara seperti Jepang.
Sebagai seorang milenial, Brili Agung Zaky Pradika, 35, tidak jengah disebut sebagai petani. Pemuda asal Banyumas, Jawa Tengah itu membuktikan usahanya yang moncer di sektor pertanian.
PETANI milenial Rustan Abu Bakar selama ini mengolah ubi jalar menjadi keripik. Seiring berjalannya waktu, Rustan merasa harus ada perkembangan terhadap usahanya.
Petani milenial dicari! Daftar sekarang & raih sukses di bidang pertanian modern. Panduan lengkap cara daftar, syarat, & peluangnya di sini!
Kementan menerima kunjungan delegasi forum kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular (SSTC) untuk berdialog mengenai pelaksanaan program pemberdayaan generasi muda di pertanian
PROGRAM Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan). Petani muda
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved