Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
KONDISI air yang masuk ke Waduk Sutami belum optimal akibat kekeringan ekstrem, meski saat ini sudah memasuki musim hujan. Dampaknya mengancam pasokan air baku untuk kebutuhan listrik, industri dan irigasi. Kekeringan ekstrem yang melanda Jatim memaksa Perusahaan Umum Jasa Tirta (PJT) 1 melakukan penyesuaian rencana alokasi air di wilayah Brantas dengan kondisi ketersediaan airnya.
"Untuk menyuplai kebutuhan air baku, listrik dan industri masih terpenuhi dengan melakukan pengaturan alokasi air irigasi secara proporsional," kata Kepala Departemen Humas dan Informasi Publik PJT 1 Didit Priambodo di Malang, Jawa Timur, Minggu (17/11/2019).
Saat ini, kondisi elevasi atau tinggi muka air waduk Sutami di Kabupaten Malang, Jawa Timur, sedikit di atas pola. Namun, air hujan belum optimal mengisi waduk terbesar di Jatim tersebut.
Ia mengungkapkan kondisi elevasi per tanggal 14 Juni 2019 pukul 24.00 WIB untuk waduk Sutami aktualnya 260,39 meter dari pola 260,33 meter. Aktual waduk Lahor 260,27 meter dari pola 260,53 meter, waduk Selorejo aktual 611,99 meter dari pola 611,37 meter. Sedangkan aktual waduk Wonorejo di Tulungagung 162,08 meter dari pola 161,62 meter, aktual waduk Bening 100,16 meter dari pola 98,05 meter. Adapun waduk Wonogiri di Jawa Tengah, aktualnya 125,12 meter dari pola 125,51 meter.
Agar air baku di waduk tahunan itu bertambah, pihaknya bertumpu pada intensitas tinggi hujan. Karena itu PJT 1 berupaya melakukan hujan buatan di daerah aliran sungai (DAS) Brantas.
Teknologi modifikasi cuaca (TMC) pun diperlukan mengingat sesuai analisis BMKG di wilayah Jawa Timur khususnya di DAS Brantas bagian hulu, pada September sampai November 2019, curah hujan yang turun masih rendah atau berada di bawah normal.
"Hal ini terlihat dari kondisi hidrometri Waduk Sutami sampai dengan bulan Oktober, inflow dan outflow bendungan masih berada di bawah rerata historisnya," tuturnya.
PJT 1 berharap meningkatnya intensitas hujan melalui TMC bisa menambah ketersediaan air yang masuk pada tampungan waduk di DAS Brantas, yaitu Sengguruh, Sutami, Lahor dan Wlingi. TMC yang dilaksanakan sejak 14 November akan berlangsung selama 20 hari. Setelah 10 hari, lanjutnya, kegiatan akan dievaluasi terhadap peningkatan elevasi dan data inflow waduk.
"Sehingga efektivitas kegiatan baru akan dapat terlihat setelahnya," imbuhnya.
Manajer Utama Keuangan, Perencanaan dan Manajemen Kinerja PJT 1 Fahmi Hidayat mengatakan sungai Brantas merupakan salah satu sungai strategis nasional. Airnya untuk penyediaan air permukaan untuk kebutuhan pokok sehari-hari, irigasi bagi pertanian rakyat seluas 101.180 hektare, dan pembangkitan energi listrik setara 1 miliar kWh per tahun.
"Waduk Sutami itu waduk terbesar di Sungai Brantas. Saat ini mengalami kekurangan ketersediaan air. Meskipun dalam beberapa hari sebelumnya di area Malang Raya telah mengalami kejadian hujan, namun belum berdampak langsung kepada Waduk Sutami," katanya.
baca juga: Pengamat: Pembangunan Kolam Renang Harus Dihentikan
Kondisi aliran masuk (inflow) ke Waduk Sutami yang masih relatif rendah di bawah Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) sehingga memaksa adanya TMC bekerja sama dengan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT).(OL-3)
Potensi ketersediaan air di Indonesia mencapai 3,9 miliar meter kubik per tahun. Dengan 80% air nasional digunakan sektor pertanian/irigasi.
Kondisi musim kemarau yang cenderung lebih kering itu juga dipengaruhi indikasi fenomena El Nino lemah yang berpotensi muncul pada pertengahan hingga akhir 2026.
Menurut dia, salah satu langkah yang dilakukan Pemprov Jabar adalah mendorong pengembangan komoditas pertanian yang lebih hemat air.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan datang lebih awal pada April dan terasa lebih kering dibanding tahun lalu. Cek daftar wilayah terdampak di sini.
Ilmuwan temukan jutaan bakteri dan jamur "pelindung" di dalam pohon ek yang tetap stabil meski dilanda kekeringan ekstrem.
BENCANA kekeringan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Keduanya diduga terseret arus ke bagian tengah waduk yang lebih dalam.
Upaya mitigasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari menyiagakan pompa, pengerukan badan air, hingga optimalisasi sistem drainase dan waduk.
Perlu pembuatan sistem pencegahan banjir yang cukup besar seperti waduk atau embung
Penambahan bukaan pintu pelimpah air dilakukan lantaran kian meningkatnya curah hujan di wilayah hulu waduk.
Di tengah kota Jakarta akan dibangun juga sumur-sumur resapan dan biopori agar tanah air di Jakarta ini sendiri juga bertambah.
Seluruh elemen masyarakat Jakarta diimbau dapat turut serta menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved