Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
PERWAKILAN Bank Indonesia (BI) Provinsi Bangka Belitung (Babel) optimistis penerapan pembayaran dengan Quick Response (QR) Code Indonesia Standar untuk kemudahan bertransaksi tak terkendala jaringan. Plt Kepala Perwakilan BI Babel, Onny Wijanarko mengatakan BI akan akan meminta penyedia jasa internet seperti Telkomsel dan lainya untuk memperkuat jaringan.
"Relevan kondisi jaringan ini tidak semua daerah kuat koneksi internetnya, begitu pula di Babel. Namun kita antisipasi dengan meminta penyedia jasa jaringan internet untuk memperkuat jaringan. Memang itu perlu waktu," kata Onny, Selasa (20/8).
Menurut dia dengan menggunakan teknologi pembayaran menggunakan Quick Response Indonesia Standar (QRIS) atau QR Code, memberikan kemudahan untuk bertransaksi. Konsumen tidak perlu membawa uang dalam jumlah banyak. Apalagi terkadang tidak semua tempat ada ATM.
"Pembayaran dengan QR Code ini mudah dan efisisn serta aman, cukup tempel ponsel pintar yang sudah ada aplikasi QR Code, teknologi ini juga tidak dikenakan biaya apapun," ujarnya.
Implementasi QRIS ini secara nasional ujarnya berlaku mulai 1 Januari 2020 mendatang, guna memberikan masa transisi persiapan, bagi penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP).
"Peluncuran QRIS bertepatan dengan HUT 74 Kemerdekaan RI, merupakan salah satu implementasi visis sistem pembayaran Indonesia (SPI) 2025 yang telah dicanangkan pada Mei 2019."
Untuk tahap awal menurutnya QRIS fokus pada penerapan QR code payment model merchant presented Mode (MPM). Penjual (merchant) akan menampilkan QR code pembayaran untuk dipindai oleh pembeli (customer) ketika melalui transaksi pembayaran.
baca juga: Kerusuhan Manokwari Disebut Gambaran Pemeliharaan Politik Rasial
"Sebelum siap diluncurkan, spesifikasi teknis standar QR code dan interkoneksinya telah melewati uji coba pada tahap pertama di bulan September hingga November 2018. Lalu tahap kedua pada Mei 2019," imbuhnya. (OL-3)
Indonesia bidik hub data center Asia Tenggara 2030 senilai US$365 miliar. Regulasi, energi hijau, dan infrastruktur jadi kunci percepatan.
Jumlah pengguna e-commerce di Indonesia diprediksi akan terus mengalami pertumbuhan, dengan peningkatan 11,2% secara tahunan.
Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai Rp1.860 triliun pada 2024, yang setara dengan 8,4 persen dari PDB nasional. Sektor ini diproyeksikan tumbuh dengan angka 5%-6% per tahun.
Plt. Direktur Pengembangan Ekosistem Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital, Sonny Sudaryanah, membuka seminar dengan keynote remarks.
Kekuatan bisnis yang telah terbentuk selama bertahun-tahun perlu dioptimalkan melalui inovasi dan digitalisasi agar tetap relevan, berdaya saing, dan siap bersaing di pasar global.
Kedaulatan ekonomi digital Indonesia semakin penting di tengah laju digitalisasi dan ketidakpastian global.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved