Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Penyakit Jamur pada Tanaman Masih Jadi Masalah Serius

Mediaindonesia.com
07/8/2019 22:55
Penyakit Jamur pada Tanaman Masih Jadi Masalah Serius
Penyuluhan dan pendampingan para petani dalam mengatasi penyakit jamur pada padi di Karawang, Jawa Barat.(Istimewa)

Penyakit jamur pada tanaman  masih merupakan ancaman utama pertanian di Indonesia. Akibat serangan jamur pada tanaman menimbulkan dampak kerugian yang nilainya bisa mencapai triliunan rupiah bagi para petani dan bisa dapat menurunkan tingkat produktivitas pertanian nasional sebesar 70%.

Penyakit jamur yang menyerang tanaman sayuran dan pangan salah satunya dapat dipicu cuaca ekstrem. Akibat penyakit tersebut, banyak petani di berbagai daerah di Indonesia mengeluhkan. Penyakit tanaman tersebut tidak hanya menurunkan hasil panen tetapi membuat gagal panen.

Winarno Tohir, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Nasional mengatakan, “Sejumlah petani mengeluhkan perubahan cuaca ekstrem akhir-akhir ini yang memberi dampak kerusakan pada tanaman sayuran dan pangan mereka akibat timbulnya penyakit jamur tanaman.”

“Penyakit jamur pada tanaman bukan saja menurunkan kualitas komoditas yang dihasilkan, tetapi bahkan bisa berdampak gagal panen,” kata Winarno saat acara penyuluhan dan pendampingan penggunaan fungisida di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/8).  

“Karenanya, kami menyambut positif langkah sosialisasi dan pendampingan dengan harapan para petani semakin memahami cara mengatasi penyakit jamur tanaman secara tepat sehingga produktivitas lahan dan pendapatan ekonomi mereka semakin meningkat,” ujar Winarno.  

Terkait kegiatan penyuluhan mengatasi penyakit jamur pada tanaman, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) Edy Purnawan mengatakan, pemerintah menyambut baik inisiatif sektor swasta untuk memberikan pendampingan kepada para petani guna mengatasi berbagai masalah hama dan penyakit tanaman yang mengganggu produktivitas dan kesejahteraan mereka.

Edy menegaskan sebagian besar petani cenderung menggunakan pestisida secara berlebihan untuk mengatasi penyakit pada tanaman. Namun dengan penyuluhan dan pendampingan yang digagas Bayer, para petani mendapatkan penjelasan secara ilmiah.

“Para petani memahami dosis serta cara penggunaan fungisida yang tepat dan aman, baik untuk lingkungan hidup dan utamanya keselamatan aplikatornya, yaitu petani itu sendiri,” ujar Edy.

Di sisi lain, Direktur PT Bayer Indonesia Mohan Babu menyampaikan, “Penyakit jamur pada tanaman merupakan ancaman utama pertanian Indonesia yang bisa berdampak kerugian pada petani serta penurunan produktivitas pertanian nasional sebesar 70%.’

Menurut Mohan, kegiatan penyuluhan kepada para petani tersebut bertujuan memberikan pendampingan kepada para petani dalam mengaplikasikan fungisida Antracol secara tepat.

“Bayer memberikan pelatihan pengetahuan produk dan penggunaan fungisida secara aman, meliputi penanganan produk saat menakar, mencampur, menyemprot dan penerapan alat pelindung diri (APD). Dengan demikian, para petani bisa meraih keberhasilan dan efektivitas produk secara menyeluruh tanpa mengkhawatirkan segi keselamatan,” jelasnya.

Dalam kegiatan penyuluhan dan pendampingan tersebut, dilakukan penyemprotan fungsida massal pada tanaman padi, sayuran, jagung, dan tembakau yang melibatkan 5.000 petani di seluruh Indonesia dan di 100 titik secara serentak dari Aceh hingga Sulawesi utara. Tidaklah mengherankan, kegiatan ini tercatat  dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penyemprotan terbesar. (OL-09)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Deri Dahuri
Berita Lainnya