Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
UNIT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manggarai, Nusa Tenggara Timur terus mendalami kasus dugaan perdagangan anak bawah umur asal Jakarta. Pada Sabtu (20/7), penyidik menginterogasi kedua korban.
Kedua korban itu ialah belakangan diketahui berinisial SR, 13, dan S, 16. Keduanya diketahui sebagai anak putus sekolah. SR berhenti sekolah sejak kelas I SMP sedangkan S putus sekolah pada saat kelas II SMA.
Kepala Unit PPA Bripka Anton Habun dan seorang penyidik memeriksa kedua korban selama kurang lebih dua jam. Seusai diperiksa, keduanya langsung diantar oleh penyidik menuju Biara Katolik milik Susteran Gembala Baik, Ruteng. Keduanya diamankan di biara tersebut.
"Mereka tidak ingin diajak ngobrol dengan wartawan. Hanya ingin cepat pulang ke Jakarta," ujar Anton.
Anton menjelaskan, pihaknya baru memeriksa kedua saksi. Sedangkan YG selaku 'mami' di kafe Sky Garden belum tersentuh sama sekali.
"Untuk sementara saksi korban, dua. (Mami yang mendatangkan korban) belum kita sentuh. Itu nanti dalam proses lebih lanjut," kata Anton.
Ia menjelaskan, kedua korban direkrut oleh YG di Jakarta pada 26 Juni. Saat direkrut, korban dijanjikan untuk bekerja sebagai pelayan restoran. Selanjutnya, pada 29 Juni, keduanya diberangkatkan dari Jakarta ke Ruteng. Sampai di Ruteng, korban dipekerjakan sebagai ladies pada kafe Sky Garden.
Baca juga: Dua Anak Bawah Umur Asal Jakarta jadi Ladies Kafe di Manggarai
Anton menambahkan, kemungkinan besar kasus tersebut dilimpahkan ke Jakarta karena lokasi peristiwa itu berlangsung di Jakarta. Pihak Polres Manggarai hanya melakukan interogasi awal.
Sebelumnya, pemilik kafe Sky Garden, Yeni Gadul membantah keterlibatan dalam kasus tersebut. Ia bahkan mengaku tak mengenal kedua korban, apalagi mempekerjakannya sebagai ladies kafe. "Saya tidak kenal. Saya tidak tahu," ujar Yeni, Jumat (19/7).
Yeni mengaku selain merekrut pekerja untuk dijadikan pelayan kafe, ia juga merekrut pekerja untuk menjadi pelayan rumah makan. Namun ia menegaskan tidak pernah merekrut anak di bawah umur.
Ia juga memastikan, setiap pekerja yang ia rekrut memiliki dokumen kependudukan yang jelas dan dilaporkan kepada pemerintah desa atau kelurahan setempat.
Karena itu, Yeni menduga dirinya dibawa ke dalam pusaran kasus tersebut sebagai permainan sesama pengusaha kafe. "Ini permainan kami saja. Maksudnya permainan kami sesama punya kafe," kata Yeni. (X-15)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved