Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
FESTIVAL Panggil Dugong (Duyung) digelar pertama kali di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Jumat (19/7) hingga Kamis (25/7). Kegiatan yang berlangsung selama satu pekan ini, dipusatkan di Pantai Wisata Mali, Kecamatan Kabola sekitar 12 kilometer arah utara Kalabahi, ibu kota Alor.
Festival bertujuan mendorong semangat masyarakat setempat untuk mengembangkan pariwisata yang berbasis lingkungan dan alam, melindungi dugong agar tidak punah, serta menarik minta wisatawan untuk berkunjung ke Alor.
Baca juga: Koma Enam Hari, Korban Kekerasan MOS SMA Taruna Meninggal
Kegiatan diawali prosesi pemanggilan Dugong di pesisir Pantai Pulau Sika sekitar 20 menit pelayaran dari Mali dipimpin pawang Onesimus La'a. Di perairan tersebut, hidup sepasang dugong bersama anak mereka selama bertahun-tahun sebelum bertemu dan bersahabat dengan Onesimus pada 1999.
Suatu sore, ketika Onesimus selesai menanam bakau di pesisir pantai Pulau Sika, ia turun ke laut untuk mengambil perahu. Saat kembali itulah, Onesimus melihat dua ekor dugong berenang di samping perahu. Seekor dugong berenang di depan perahu dan satu lagi berenang di belakang perahu. Dua dugong ini mengantar Onesimus hingga pantai Mali.
Keesokan harinya saat dia kembali dari Sika, dua dugong tersebut kembali mengantar Onesimus. "Hari ketiga, saya lepas jangkar perahu dan tunggu. Dua ekor dugong itu muncul lalu saya mengulurkan tangan dan keduanya mencium tangan saya. Dari situ naluri dugong masuk dalam pribadi saya," kata
Onesimus kepada wartawan, Sabtu (20/7).
Sejak itu, pria tersebut bersahabat dengan Dugong hingga saat ini, seperti terlihat saat dia memanggil dugong untuk bertemu pengunjung selama dua hari sejak Jumat (19/7) dan Sabtu. Begitu perahu tiba di lokasi kemunculan dugong, Onesimus kemudian memanggil nama mamalia tersebut mengunakan bahasa daerah Kabola beberapa kali. "Bu lamoli go,mao, hao," ujarnya beberapa kali.
Tidak kurang dari satu menit, seekor dugong jantan muncul dari arah depan perahu dan berenang mengelilingi perahu sekitar 10 menit sebelum diperintahkan pulang. Menurut Dia, dugong yang muncul tersebut memiliki panjang hampir tiga meter dan berat sekitar 300 kilogram.
Dia menyebtukan mamalia itu muncul sendirian karena sang betina tengah bersama anaknya. Anak Dugong belum bisa menyesuaikan diri dengan tamu sehingga tidak muncul," ujarnya kepada wartawan.
Prosesi tersebut bagian dari festival panggil dugong yang dibuka Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Saat membuka kegiatan, Viktor mengatakan festival tersebut akan dikembangkan agar berkualitas internasional, mulai dari fasilitas kapal, atraksi budaya, akomodasi, kuliner dan kerajinan rakyat sehingga menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru di Alor.
"Persiapan festival dugong 40% bagus, tinggal dipoles lagi agar mendakati 100%," ujar Viktor yang didampingi Kepala Biro Humas Setda NTT, Marius Jelamu, dan Kepala Dinas Periwisata NTT, Wayan Darmawa, dan sejumlah pejabat lainnya.
Menurut Viktor, pada festival panggil dugong ke-2 pada 2020, akan dihadiri Presiden RI, Joko Widodo. "Saya sudah lapor presiden dan akan hadir pada festival tahun depan," kata Laiskodat.
Dia mengatakan, setelah seluruh persiapan rampung, kegiatan menonton dugong hanya dibuka dua kali dalam setahun. Hal itu bertujuan menjaga dan melindungi Dugong bersama makanan dugong, yakni padang lamun di perairan tersebut.
Sesuai laporan World Wide Fund for Nature (WWF) 2018, tutupan lamun di perairan Kabola yang merupakan habitat dugong masih bagus, yakni sebesar 62,2% terdiri dari lamun halophila ovalis, holodule uninervis dan cymodocea roundata.
Baca juga: Dalami Kasus Perdagangan Anak, Polisi belum Sentuh Pemilik Kafe
Bupati Alor, Amon Djobo, yakin fenomena hubungan batin yang kuat antara manusia dan dugong merupakan daya tarik wisata yang luar biasa di masa depan. Namun, Alor masih perlu bekerja keras untuk mencegah kepunahan dugong dari kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Dari hasil kajian WWF, penangkapan ikan di Alor masih mengunakan bahan peledak dan racun, bubu, jala lompo, panah dan pancing. Dampak yang ditimbulkan dari pengopeasian alat tangkap ikan tersebut berpotensi merusak habitat dugong. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved