Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Dalami Kasus Perdagangan Anak, Polisi belum Sentuh Pemilik Kafe

Yohanes Manasye
20/7/2019 13:45
Dalami Kasus Perdagangan Anak, Polisi belum Sentuh Pemilik Kafe
Pemeriksaan terhadap dua perempuan di bawah umur yang menjadi korban perdagangan manusia.(MI/Yohanes Manasye)

UNIT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian Resor Manggarai, Nusa Tenggara Timur terus mendalami kasus dugaan perdagangan anak bawah umur asal Jakarta. Pada Sabtu (20/7), penyidik menginterogasi kedua korban.

Kedua korban belakangan diketahui berinisial SR alias Dea, 13, dan S alias Febi, 16.

Keduanya diketahui sebagai anak putus sekolah. Dea berhenti sekolah sejak kelas I SMP sedangkan Febi putus sekolah pada saat kelas II SMA.

Kepala Unit PPA Bripka Anton Habun dan seorang penyidik memeriksa kedua korban selama kurang lebih dua jam.

Tampak Dea mengenakan sandal jepit, celana jeans dan sweater warna abu-abu. Sedangkan Febi mengenakan sandal jepit, celana jeans warna biru, dan baju kemeja kotak-kotak paduan warna merah dan hitam.

Baca juga: Dua Anak Bawah Umur Asal Jakarta jadi Ladies Kafe di Manggarai

Usai diperiksa, keduanya langsung diantar penyidik menuju Biara Katolik milik Susteran Gembala Baik, Ruteng. Keduanya diamankan di biara tersebut.

"Mereka tidak ingin diajak ngobrol OLEH wartawan. Hanya ingin cepat pulang ke Jakarta," ujar Anton.

Anton menjelaskan, hingga saat ini, pihaknya baru memeriksa kedua saksi. Sedangkan YG selaku "mami" kafe Sky Garden belum tersentuh sama sekali.

"Untuk sementara saksi korban, dua. Saksi korban, dua. (Mami yang mendatangkan korban) belum kita sentuh. Itu nanti dalam proses lebih lanjut," kata Anton.

Ia menjelaskan, kedua korban direkrut YG di Jakarta pada 26 Juni 2019.

Saat direkrut, korban dijanjikan bekerja sebagai pelayan restoran. Selanjutnya, pada 29 Juni, keduanya diberangkatkan dari Jakarta ke Ruteng. Sampai di Ruteng, korban malah dipekerjakan sebagai ladies pada kafe atau pub Sky Garden.

Anton menambahkan, kemungkinan besar kasus tersebut dilimpahkan ke Jakarta karena lokus dan tempus peristiwa itu berlangsung di Jakarta. Pihak Polres Manggarai hanya melakukan interogasi awal.

Sebelumnya, pemilik kafe Sky Garden, Yeni Gadul membantah keterlibatan dirinya dalam kasus tersebut. Ia bahkan mengaku tIDak mengenal kedua korban, apalagi mempekerjakannya sebagai ladies kafe.

"Saya tidak kenal. Saya tidak tahu," ujar Yeni, Jumat (19/7).

Yeni mengaku selain merekrut pekerja untuk dijadikan pelayan kafe, ia juga merekrut pekerja untuk menjadi pelayan rumah makan. Namun ia menegaskan dirinya tidak pernah merekrut anak di bawah umur.

Ia juga memastikan, setiap pekerja yang ia rekrut memiliki dokumen kependudukan yang jelas dan dilaporkan kepada pemerintah desa atau kelurahan setempat.

Karena itu, Yeni menduga dirinya dibawa ke dalam pusaran kasus tersebut sebagai permainan sesama pengusaha kafe.

"Ini permainan kami saja. Maksudnya permainan kami sesama punya kafe," kata Yeni. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya