Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Peringati Jumenengan Dalem, Keraton Yogyakarta Gelar Labuhan

Agus Utantoro
03/4/2019 12:45
 Peringati Jumenengan Dalem, Keraton Yogyakarta Gelar Labuhan
Sri Sultan Hamengku Buwono X.(MI/MOHAMAD IRFAN)

MEMPERINGATI 31 tahun Raja Kesultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Keraton Yogyayakarta akan menyelenggarakan upacara labuhan ke sejumlah tempat pada Minggu (7/4) mendatang.

Pengageng Tepas Tandha Yekni Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hayu mengatakan, peringatan naik tahta itu sendiri di lingkungan Keraton Yogyakarta dikenal sebagai Tingalan Jumenengan Dalem. 

"Akan ada serangkaian acara untuk peringatan ini, antara lain ngebluk, ngapem dan puncaknya adalah sugengan," kata GKR Hayu dalam press release yang diterima di Yogyakarta, Selasa (2/4).

Selamatan atau sugengan ini, ujarnya, digelar untuk memohon usia panjang Sultan, kecemerlangan tahta Sultan, dan kesejahteraan bagi rakyat Yogyakarta. 

"Setelah sugengan kemudian digelar acara labuhan di beberapa petilasan yang dianggap sakral bagi Keraton Yogyakarta," jelasnya.

Dikatakan, upacara ngebluk atau membuat adonan untuk pembuatan apem digelar pada Rabu Pon (3/4) atau 27 Rejeb 1952 (kalender Jawa).

Kegiatan tradisi ini diselenggarakan di Bangsal Sekar Kedhaton dipimpin permaisuri atau putri tertua.

Sementara upacara ngapem atau membuat apem diselenggarakan pada Kamis Wage 28 Rejeb 1952 atau (4/4). 

"Ngapem merupakan prosesi membuat kue apem. Kata Apem berasal dari bahasa Arab afwan yang artinya mohon maaf atau ampun," ujarnya.

Ia menambahkan lagi apem yang akan dibuat dibedakan menjadi dua ukuran, apem biasa yang berukuran kecil dan apem besar atau disebut Apem Mustaka. Apem, ujarnya, dibuat untuk acara sugengan yang maknanya berdoa seraya memohon ampunan.

 

Baca juga: Sri Sultan Resmikan Stadion Mandala Krida Baru

 

Sementara hari berikutnya, Jumat diselenggarakan upacara sugengan atau selamatan. Upacara sugengan ini, jelasnya, diselenggarakan bertepatan dengan tanggal naik penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X menurut kalender Jawa, yakni tanggal 29 Rejeb.

"Sri Sultan Hamengku Buwono X naik takhta pada Hari Selasa Wage tanggal 29 Rejeb Wawu 1921 atau bertepatan dengan tanggal 7 Maret 1989," katanya.

Peringatan penobatan Sultan atau sugengan ini dihadiri kerabat keraton beserta Abdi Dalem. Dikatakan, di Keraton Yogyakarta, Tingalan Jumenengan Dalem (peringatan naik tahta) tidak selalu diperingati dengan resepsi yang menampilkan Tari Bedhaya, namun wajib bagi keraton untuk mengadakan doa bersama atau selamatan (sugengan).

Upacara sugengan, imbuhnya, dilaksanakan di Bangsal Kencana dengan didahului arak-arakan Abdi Dalem yang menyiapkan ubarampe Labuhan untuk disemayamkan di Gedhong Prabayeksa.

Labuhan
Rangkaian upacara labuhan ini, katanya, dimulai dengan penyiapan ubarampe yang dipersiapkan di Gedhong Prabayeksa menuju Bangsal Srimanganti, dan kemudian diberangkatkan ke berbagai tempat tujuan labuhan.

"Sabtu pagi hari sekitar pukul 08.00 semua ubarampe akan diberangkatkan dari Bangsal Sri Manganti," katanya.

Selanjutnya, Utusan Dalem akan menyerahkan ubarampe labuhan ke pemerintah daerah tempat di mana lokasi labuhan akan berlangsung.

Ubarampe Labuhan Parangkusuma akan diserahterimakan di Kecamatan Kretek Bantul. Setelah itu, prosesi Labuhan akan langsung dilaksanakan pada hari itu juga, Sabtu (6/4).

Sementara itu, ubarampe labuhan Merapi akan diserahterimakan di Kecamatan Depok dan Cangkringan, Sleman, sedangkan ubarampe Labuhan Lawu akan diserahterimakan di Kantor Sekda Karanganyar dan Kecamatan Tawangmangu. 

Prosesi Labuhan di kedua tempat terakhir dilaksanakan keesokan harinya pada Minggu (7/4) pagi.

Dalam pada itu bersamaan dengan peringatan Isra Mi'raj, Keraton Yogyakarta telah menggelar Yasa Peksi Burak pada Selasa Wage 26 Rejeb 1952 atau bertepatan dengan 2 April 2019, pukul 09.00 - 15.00.

GKR Hayu menjelaskan Yasa Peksi Burak merupakan kegiatan membuat hiasan yang berbentuk seperti burung buraq, yaitu kendaraan Nabi Muhammad pada saat menerima perintah sholat. Hiasan dibuat dari kulit jeruk, buah dan bunga di area Keputren. 

Sore hari selepas Ashar, hiasan bunga dan buah akan dibawa ke Masjid Gedhe dalam acara doa bersama yang dilakukan oleh Kawedanan Pengulon. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya