Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM gabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI, Polri, dan BPBD Riau terus melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Riau. Pemadaman dan pendinginan area terbakar dilakukan antara lain di Kabupaten Bengkalis, Kota Dumai, dan Kabupaten Indragiri Hilir.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Raffles Panjaitan mengatakan, berdasarkan informasi dari satelit NOAA per Senin (25/2), terdapat 14 titik panas di seluruh wilayah Indonesia.
Rinciannya, di Provinsi Riau ada 10 titik panas tersebar di tujuh kabupaten. Meliputi Bengkalis, Dumai, Pelalawan, Siak, Rokan Hilir, Indragiri Hilir, dan Kampar.
Sementara itu, di Provinsi Kepulauan Riau terdapat satu titik panas di Kabupaten Karimun. Sisanya terdapat di Provinsi Sumatra Utara yakni tiga titik panas yang tersebar Labuhanbatu Selatan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.
"Kebakaran sebagian terjadi di lahan gambut dan sebagian lagi di semak belukar. Penanganan berupa pemadaman dan pendinginan lahan terbakar terus dilakukan, baik melalui water bombing maupun pemadaman dari darat," ujarnya saat dihubungi, Selasa (26/2).
Baca juga: Status Merapi Tetap Waspada
Berdasarkan data Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, kurun waktu 1 Januari 2019 hingga 25 Februari 2019, tercatat 112 titik panas berdasarkan pantauan satelit NOAA.
Sejak awal tahun hingga Februari ini, tercatat sedikitnya 869 hektare lahan terbakar di sembilan provinsi. Rinciannya, Aceh 10,8 hektare, Sumatra Utara 39 hektare, Riau 685 hektare, Kepulauan Riau 45 hektare, dan Jambi 4 hektare.
Kemudian Kalimantan Barat 29 hektare, Kalimantan Tengah 15,3 hektare, Kalimantan Timur 31,2 hektare, dan Sulawesi Selatan 10 hektare. Hingga kini, satu provinsi telah menetapkan status darurat ialah Riau yang berlaku sejak 19 Februari 2019.
"Penanganan dan patroli terpadu untuk pencegahan terus dilaksanakan agar kebakaran tidak meluas. Sebabnya, berdasarkan analisis dan prediksi BMKG menyatakan bahwa pada Februari 2019 hingga Juli 2019 kemungkinan adanya El Nino lemah," tukas Raffles.
Khusus untuk Riau, kata Raffles, kesiapsiagaan dan pencegahan diintensifkan.
Pasalnya, kecenderungan fenomena karhutla tahun-tahun sebelumnya terdapat siklus rawan karhutla di Riau yang biasanya terjadi pada dua periode. Periode pertama terjadi pada Januari-Maret dan periode kedua pada bulan Juli-Oktober. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved