Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR 150 hektare (ha) lahan sawah di Kemukiman Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, gagal panen.
Pasalnya tanaman padi di kawasan setempat sering terendam banjir sehingga pertumbuhan terganggu.
Lahan sawah yang terjadi puso itu tersebar di kawasan Desa Lawang, Tanjung Haji Muda, Siren, Meunje dan Desa Beuringen. Warga mengaku sangat terpukul terhadap kondisi tersebut.
Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh terkesan tidak menghiraukan kegagalan para petani itu. Nasib perekonomian petani yang baru gagal panen dan kembali ke nol tidak pernah ada perhatian dan bantuan apapun dari Dinas Pertanian.
Tokoh Masyarakat Matangkuli, Muhammad Hasan kepada Media Indonesia, Rabu (20/2) mengatakan, bencana gagal panen itu berawal karena sekitar empat bulan terakhir lahan sawah di lima desa tersebut sering terendam banjir akibat luapan Sungai Krueng Keureutoe dan Sungai Krueng Pirak.
Itu merupakan air bah kiriman dari hulu sungai di kawasan pengunungan perbatasan Kabupaten Aceh Utara-Bener Meriah.
Baca juga: Banjir di Muara Teweh Meluas
Sungai Krueng Keureutoe berada di sebelah barat dan Sungai Krueng Pirak persis di sebelah timur permukiman lima desa itu. Kedua sungai ganas itu mengepung areal sawah dan perkampungan warga, sehingga merendam dan ketinggian banjir berkisar 1 hingga 3 meter.
"Selama musim turun ke sawah kali ini sejak September 2018 hingga Januari 2019, mencapai 20 kali terendam banjir. Dalam 1 ha lahan sawah paling memperoleh hasil 10 kg gabah padi" tutur Muhammad Hasan.
Dikatakan Muhammad Hasan, sebagai tokoh peduli pertanian di Kecamatan Matangkuli, ia sangat kecewa terhadap Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh.
Pasalnya sejak musibah banjir berulangkali hingga ratusan hektare lahan gagal panen, belum sekalipun para petani dikunjungi oleh kepala atau petugas Dinas Pertanian Perkebunan Aceh.
Bahkan tidak ada bantuan benih atau apapun lainnya dari Dinas Pertanian untuk petani yang mengalami gagal panen itu.
"Padahal kami sudah berulang kali melapor kondisi terparah. Sangat kecewa terhadap Dinas Pertanian. Apalagi kini okonomi masyarakat sangat terjepit, tapi satu kilogram benih bantuan saja dipernah ada" kata Razali, petani lainnya. (OL-3)
Para mahasiswa ini akan melaksanakan berbagai program mulai 2-22 Februari 2026. Adapun pemberangkatan dilakukan dalam dua gelombang, pada 2 dan 11 Februari 2026.
Rapat konsolidasi membahas klaster infrastruktur, mencakup jalan, jembatan permanen, jembatan bailey, serta infrastruktur sungai seperti irigasi, daerah aliran sungai hingga sumur bor.
Barita mengatakan upaya hukum ini diharapkan dapat memberikan kejelasan terhadap penyebab bencana di Sumatra.
Pembangunan huntara dilakukan di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatra. Rinciannya, sebanyak 16.282 unit huntara dibangun di Aceh, 947 unit di Sumatra Utara, dan 618 unit di Sumatra Barat.
Data sementara posko darurat Aceh mencatat 56.652 hektare sawah di 18 kabupaten dan kota rusak akibat banjir bandang dan longsor akhir November 2025.
Proyek percontohan pertama untuk memobilisasi sumber pembiayaan baru ke dalam sistem taman nasional, dilakukan di Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, Sumatra
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved