Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo mengingatkan masyarakat agar tak terpecah belah karena beda pilihan dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum. Pesta demokrasi yang berlangsung 5 tahun sekali itu mestinya disambut dengan suka cita bukan dengan menebar kebencian.
"Karena pemilihan gubernur tidak omong. Tidak saling sapa antartetangga. Ada itu. Bener ndak?. Karena pemilihan presiden satu majelis taklim tidak saling bicara. Ada itu. Saya ngomong begini karena saya tahu itu ada," kata Jokowi di hadapan para penerima SK Perhutanan Sosial di Wana Wisata Pokland di Desa/Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (8/2).
Kondisi itu seharusnya tak terjadi dalam pesta demokrasi. Masyarakat mestinya melihat rekam jejak calon pemimpin yang akan dipilihnya.
"Ini seharusnya tidak terjadi karena setiap lima tahun itu ada pemilihan terus. Pemilihan presiden setiap lima tahun ada, pemilihan gubernur setiap lima tahun ada, pemilihan bupati setiap lima tahun ada, pemilihan wali kota setiap lima tahun ada. Itu pesta demokrasi. Seharusnya kita anggap biasa. Dilihat kandidatnya. Punya pengalaman atau ndak memegang sebuah pemerintahan. Punya prestasi ndak, prestasinya apa, programnya baik ndak untuk rakyat. Iya kan? idenya, gagasannya bagus ndak?," jelasnya.
Baca juga: 2 Keluarga Korban Tragedi Trisakti Dukung Jokowi
Ia pun berharap masyarakat tak termakan berbagai fitnah dan berita bohong memasuki tahun politik sekarang. Masyarakat harus menggunakan nalar dan rasionalitas menyikapi berbagai berita yang belum jelas kebenarannya.
"Jangan dengerin yang namanya fitnah-fitnah. Sekarang fitnah di mana-mana kalau sudah masuk ke tahun politik. Hati-hati hoaks. Semburan dusta semakian banyak. Hati-hati, hati-hati. Saya titip ini saja. Hati-hati, hati-hati. Kalau Cak Lontong ngomong, mikir! mikir! mikir!" tegasnya.
Jokowi pun mengaku bersikap defensif menghadapi berbagai fitnah yang ditujukan kepadanya selama 4 tahun ini. Ia mengaku tak ingin melawan berbagai fitnah itu dengan fitnah.
"Selama ini saya mencoba diam, tapi sekarang tak bisa dibiarkan karena akan menjadi fitnah. Bukan marah loh ya, tapi ini ngomong," selorohnya disambut tawa para hadirin yang hadir.
Ia mencontohnya soal isu PKI yang ditujukan kepadanya. Belum lagi soal kriminalisasi ulama, anti-Islam, antek asing, dan lainnya. Padahal di sisi lain, kata Jokowi, ia misalnya berjuang merebut kembali Blok Mahakam yang hampir 50 tahun dikelola pihak asing. Sejak 2015, Blok Mahakam sudah diambil alih Pertamina. Pun Blok Rokan yang hampir 90 tahun dikelola Chevron, saat ini sudah dikuasai lagi 100% pemerintah Indonesia.
"Termasuk Freeport yang lebih dari 40 tahun dikuasai perusahaan Amerika. Sejak 2018 saham mayoritasnya hampir 51% kita diambil alih. Itu bukan pekerjaan mudah. Kalau mudah, pemerintah sebelumnya pasti bisa melakukannya," tandas Jokowi. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved