Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Ma'ruf Amin Ungkap Latar Belakang Jadi Cawapres

Dwi Apriani
11/1/2019 17:15
Ma'ruf Amin Ungkap Latar Belakang Jadi Cawapres
(MI/Dwi Apriani)

MARAKNYA isu yang menjelekkan calon Presiden dan Wakil Presiden RI nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, tidak membuat pasangan tersebut gentar. Ma'ruf Amin mengaku tidak terpancing upaya-upaya pihak yang berniat Islam dan nasionalis di Pemilu 2019 itu.

Hal itu dikemukakan Ma'ruf di Palembang, Sumatra Selatan, seusai peresmian posko dan pelantikan pengurus Rumah Kiai Ma'ruf Amin (RKMA) Sumsel dan silaturahim ramah tamah para kiai dan ulama se-Sumsel, Jumat (11/1),

Ma'ruf Amin menekankan ia maju untuk mengambil bagian dalam Pilpres bukan karena adanya niatan jelek maupun ambisi kekuasaan. Ia mengungkapkan, sejak awal ia menerima pinangan Jokowi untuk menjadi pendampingnya dalam Pilpres 2019 karena desakan dari para ulama dan kiai.

"Saya bersedia dan mau mendampingi Pak Jokowi sebagai cawapres karena menilai selama ini beliau sudah cukup banyak berbuat untuk kemajuan bangsa. Salah satunya, dari pembangunan infrastruktur membangun sampai Papua," kata dia.

Ma'ruf menerangkan ada desakan dari para ulama dan kiai dengan mengorbankan jabatannya baik sebagai rais aam Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia menyampaikan dari sejumlah tokoh NU yang disodorkan kepada petahana akhirnya dia yang dipilih setelah melalui serangkaian proses yang cukup panjang.

Ia meminta kepada seluruh pendukung Jokowi-Amin agar tidak mudah terpengaruh oleh berita-berita bohong atau hoaks yang bertebaran, utamanya di media sosial.

"Kita inginnya menang yang bermartabat makanya yang masih ditidur dibangunkan dan yang buyan (bodoh) dipintarkan," cetus Ma'ruf Amin.

Ia menyatakan terima kasih kepada KMA nasional dan Sumsel yang sudah membentuk koordinator. "Saya dan Pak Jokowi adalah perpaduan nasionalis dan ulama Islam," ujarnya.

Koordinator Rumah Kiai Maruf Amin Pusat KH Ahmad Bagja mengatakan peresmian posko dan pelantikan pengurus rumah KMA Provinsi sudah dilakukan di 20 provinsi. Ditargetkan pada akhir Februari pengurus cabang sudah terbentuk di seluruh Indonesia.

"Saya minta pengurus KMA ini melawan hoaks. Aplikasinya sudah ada, di masjid mana orang yang membikin hoaks kita tangkal. Kita ingin menjaga kiai dari hal yang tidak bermoral. Jokowi dan Amin adalah simbol umara dan ulama. Saya kira baru terjadi di indonesia," papar Bagja.

Ia menilai Pak Jokowi dan Ma'ruf Amin menunjukkan karakter untuk memajukan negara, baik dengan kerja keras maupun doa. Ia pun menegaskan tidak ada daerah yang tidak ada NU. Momentum ini untuk
menyatukan NU.

"Kita punya kekuatan, itu yang menyatukan bangsa, menegakkan bangsa. Itu tidak boleh diinjak. Kita harus menjaganya. Kita tidak hanya relawan, kita sedang menjaga bangsa dan keutuhan NKRI," tandasnya. (A-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya