Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Daerah SuLawesi Tengah mencatat ada 400 titik pengungsi yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong, sebagai dampak dari bencana alam gempa, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018).
Dari 400 titik pengungsi yang disebutkan, terdapat 53.182 kepala
keluarga (KK), dengan total pengungsi 172.635 jiwa. Berdasarkan data yang dimiliki Pemprov Sulteng, sebanyak 21.090 KK membutuhkan hunian sementara. Dari jumlah itu, 4.934 KK berada di Kota Palu, 7.686 KK di Kabupaten Sigi, 7.989 KK di Kabupaten Donggala, dan 480 KK di Kabupaten Parigi Moutong.
Hingga saat ini, realisasi pembangunan hunian sementara untuk korban bencana di Palu, Sigi dan Donggala, baru mencapai 193 unit atau 10% dari 1.200 unit yang ditargetkan pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PU-Pera).
Dalam rencana sebelumnya, seluruh hunian sementara yang dibutuhkan pengungsi mestinya sudah tuntas pada 26 Desember 2018, yaitu saat berakhirnya masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana.
Menurut Kepala Satuan Tugas Bidang Infrastruktur Kementerian PU-Pera Ari Sutiadi, keterlambatan penyelesaian pembangunan hunian sementara disebabkan adanya kelangkaan material. Bahan yang dipakai rata-rata adalah bahan pabrikan. Proyek tersebut juga kekurangan tukang bangunan.
Setiap unit huntara yang dikerjakan Kementerian PU-Pera, memiliki 12 bilik, dengan dimensi 4,8x3,6 m2 (17,28 m2) per biliknya. Kemudian, dilengkapi sarana sanitasi terdiri dari 4 kamar mandi/WC, 1 area tempat cuci dan 1 area dapur, dengan listrik berkapasitas 450 W per bilik. Unit hunian dilengkapi utilitas air minum.
Ari meminta agar hunian sementara yang sudah jadi dan siap ditempati segera diisi. Selanjutnya, pihaknya bisa mengevaluasi kekurangan kebutuhan.
Gubernur Sulteng Longki Djanggola pun mengharapkan agar para pengungsi segera menempati hunian sementara yang sudah tersedia, seperti Huntara (hunian sementara) Gawalise.
Lurah setempat diminta agar segera menetapkan warga yang akan menempati Huntara Gawalise, dan ditetapkan berdasarkan SK Wali Kota sebagai bahan distribusi perlengkapan hunian sementara dari Dinas Sosial. Gubernur juga meminta PLN agar dapat segera menyelesaikan pemasangan meteran dan instalasi.
Kadis Sosial Sulteng Ridwan Mumu menyatakan Dinas Sosial sudah siap untuk kelengkapan hunian sementara untuk 1.200 bilik. Distribusinya sesuai SK Bupati dan Wali Kota.
Jika distribusi 1.200 paket jatah hidup yang terdiri dari kelengkapan berupa kompor gas, peralatan masak, dan kasur, tersebut sudah habis akan diusulkan kembali pengadaannya sesuai kebutuhan.
Menurut Gubernur Sulteng, selambat-lambatnya Rabu (14/1), sejumlah hunian sementara yang telah siap, sudah harus ditempati. Dalam kaitan penyediaan hunian tetap, Gubernur Longki telah menandatangani SK penetapan lokasi hunian sesuai usulan Pemkot Palu, Pemkab Sigi dan Donggala, serta disetujui Bappenas.
Status lahan dan luasannya, menurut Gubernur, sudah mendapat lampu hijau dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Pembangunan hunian tetap dijadwalkan bisa dimulai pada Maret mendatang. Seluruhnya dirancang dengan model yang sesuai standar minimum bangunan tahan gempa.
Selain hunian sementara yang disiapkan Kementerian PU-Pera, sebagian pengungsi dan korban yang terdampak bencana di Palu, Sigi, dan Donggala, telah menempati hunian sementara yang disediakan pihak swasta, LSM, BUMN, lembaga donatur, Pemda Jateng, termasuk hunian yang diberikan Yayasan Media Group melalui Dompet Kemanusiaan Media Group. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved