Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

2018, Kerugian Bencana di Kota Sukabumi Rp4 Miliar Lebih

Benny Bastiandy
10/1/2019 13:40
2018, Kerugian Bencana di Kota Sukabumi Rp4 Miliar Lebih
(ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan)

KERUGIAN bencana di Kota Sukabumi, Jawa Barat, selama 2018 mencapai Rp4.284.190.000. Kebakaran berkontribusi paling besar terhadap kerugian yang mencapai sebesar Rp1.554.815.000.

"Hasil rekap kerugian kebencanaan di Kota Sukabumi selama 2018 mencapai Rp4 miliar lebih," kata Kepala Unsur Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, Asep Suhendrawan, Kamis (10/1).

Data yang dihimpun BPBD Kota Sukabumi, sepanjang 2018 jumlah bencana dilaporkan sebanyak 153 kali. Rinciannya, kebakaran sebanyak 36 kali, cuaca ekstrem 34 kali, tanah longsor 29 kali, gempa bumi 25 kali, angin topan/puting beliung 19 kali, dan banjir 10 kali. 

Kerugian yang ditimbulkan dari kebakaran sebesar Rp1.554.815.000, cuaca ekstrem sebesar Rp1.109.500.000, angin topan/puting beliung sebesar Rp857.375.000, tanah longsor sebesar Rp649.000.000, gempa bumi sebesar Rp79.000.000, dan banjir sebesar Rp34.500.000.

"Memasuki awal tahun ini dilaporkan juga terjadi berbagai bencana. Tapi kami belum merekap jumlahnya," sebut Asep.

 

Baca juga: Kota Sibolga Diterpa Isu Tsunami

 

Pemkot Sukabumi sudah menetapkan siaga status darurat banjir dan tanah longsor terhitung 1 Desember 2018 hingga 31 Mei 2019. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan akan terjadi pada Januari hingga Februari.

"Setelah puncak musim hujan (Januari-Februari), memasuki Maret prakiraanya intensitas hujan menurun. Tapi kesiapsiagaan menghadapi ancaman longsor dan banjir tetap kami berlakukan sampai Mei mendatang," tutur Asep.

Berdasarkan prakiraan yang dirilis BMKG Provinsi Jawa Barat, puncak musim hujan tersebut berlaku untuk Jawa Barat bagian tengah dan selatan, termasuk di Kota Sukabumi. 

Asep bersama jajarannya terus mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan siaga menghadapi puncak musim hujan, terutama bagi warga
yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor.

"Selain menggelar kesiapsiagaan, kami juga mengoreksi dan memperbaiki semua peralatan untuk penanggulangan bencana," kata dia.

Asep mengatakan, awal Desember 2018, terjadi berbagai bencana di Kota Sukabumi dalam waktu bersamaan. Seperti tanah longsor di Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, dan banjir bandang meluapnya air Sungai Cisuda di Jembatan Merah, Kelurahan Jayaraksa,  Kecamatan Baros.

"Banjir Jembatan Merah waktu itu terbilang cukup parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi dan sampah yang masuk ke aliran Sungai Cisuda.  Banjir meluap hingga jalan dan permukiman warga di sekitar pinggir sungai," ungkapnya.

Banjir di Jembatan Merah, lanjut dia, dijadikan salah satu bahan evaluasibencana selama 2018. Hasil evaluasi, meluapnya air Sungai Cisuda diJembatan Merah lebih dipicu kebiasaan buruk sebagian masyarakat yang kerap membuang sampah sembarangan.

"Kami meningkatkan koordinasi dengan OPD lain dalam mengantisipasi potensi kebencanaan termasuk penanggulangannya. Ini juga untuk mengefektifkan dan mengefisienkan mitigasi kebencanaan," pungkasnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya