Jumat 23 November 2018, 20:12 WIB

Pendekatan Ekonomi Melingkar Atasi Sampah

Dhika Kusuma Winata | Nusantara
Pendekatan Ekonomi Melingkar Atasi Sampah

MI/Bagus Suryo

 

BERKACA dari kasus kematian paus sperma yang ditemukan di wilayah Taman Nasional (TN) Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pencegahan sampah laut yang sebagian besar berasal dari aktivitas di daratan mendesak dilakukan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSL3B) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, menyatakan pendekatan ekonomi melingkar (circular economy) bisa menjadi solusi pengendalian sampah daratan.

Ia mengatakan Indonesia memiliki potensi sampah sebagai sumber daya yang sangat besar untuk dikelola secara berkelanjutan melalui daur ulang. Tantangannya ialah untuk terus mendorong masyarakat memilah sampah sehingga daur ulang bisa dilakukan efektif.

"Kurang lebih ada potensi sampah 65 juta ton per tahun yang terdiri dari sampah organik, plastik, kertas, metal, karet, kaca, tekstil, dan residu yang dihasilkan. Potensi ekonomi melingkar akan benar-benar menjadi sumber daya yang sangat hebat dengan dukungan perubahan perilaku masyarakat untuk memilah-milah sampah," ujarnya saat dihubungi, Jumat (23/11).

Ekonomi melingkar dalam pengelolaan sampah merupakan konsep menjadikan sampah sebagai sumber daya untuk menghasilkan produk. Sehingga, memunculkan siklus berulang dari bahan baku menjadi produk yang dikonsumsi lalu dikelola kembali menjadi produk.

Selama ini, lanjutnya, potensi sumber daya sampah tersebut umumnya terbuang sia-sia ke tempat pembuangan akhir (TPA), mencemari lingkungan, atau bahkan berakhir di laut. Namun, persoalan kunci yang kini dihadapi terletak pada sistem pengumpulan sampah, karena sistem yang baik akan meningkatkan potensi ekonomi melingkar tersebut.

Sayangnya, lanjut dia, masyarakat belum terbiasa memilah sampah yang akan dibuang dan kerap mencampur berbagai jenis sampah. Hal itu menyulitkan industri untuk melakukan daur ulang.

"Itu sangat bergantung dari kesadaran kolektif dan perubahan perilaku masyarakat karena yang paling penting memilah sampah. Kalau kesadaran kolektif dan perubahan perilaku masyarakat sudah bisa memilah sampah, maka setiap sampah yang dihasilkan akan dapat menjadi bahan baku daur ulang industri," ucapnya.

Ia mencontohkan, saat ini industri kertas masih kekurangan bahan baku dari sampah kertas sekitar 4-5 juta ton per tahun. Padahal, potensi daur ulang dari sampah kertas sebesar 6-7 juta ton. Sementara itu, tingkat daur ulang dari sampah plastik juga belum optimal yang hanya mencapai baru 11%. Sementara potensi sampah plastik sebagai sumber daya kurang lebih 10 juta ton per tahun.

"Kalau pemilahan dan sistem pengumpulannya baik di masyarakat, kekurangan bahan baku tersebut dapat diatasi dari pasokan sampah dalam negeri," jelasnya. (OL-4)

Baca Juga

dok.humas

Wujudkan Herd Immunity, Binda Gorontalo Gelar Vaksinasi hingga Pelosok

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 Desember 2021, 16:35 WIB
BADAN Intelijen Negara Daerah (Binda) Gorontalo menggencarkan vaksinasi COVID-19 untuk mewujudkan herd...
AFP

PUPR Terjunkan Tim dan Alat Berat untuk Tanggap Darurat Erupsi Semeru

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 05 Desember 2021, 16:13 WIB
Tim Tanggap Darurat Kementerian PUPR baru bisa mendekat ke beberapa titik lokasi Jembatan Besuk...
Ist

Baznas Bangun Pos Kesehatan untuk Korban Erupsi Gunung Semeru

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 Desember 2021, 15:06 WIB
Baznas juga telah terlebih dahulu mengirimkan tim tanggap bencana dari Baznas Kabupaten Lumajang, yang menjadi titik terdekat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya