Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Ma'ruf Amin Cerita Banyak Seputar Pencalonannya

Yoseph Pencawan
20/11/2018 17:40
Ma'ruf Amin Cerita Banyak Seputar Pencalonannya
(MI/Yoseph Pencawan )

SAAT menyempatkan diri menghadiri acara Maulid Nabi yang dihadiri ribuan jemaah dari berbagai elemen masyarakat, di Medan Internasional Convention Center, Kota Medan, Selasa (20/11), Ma'ruf Amin membeberkan banyak hal mengenai pencalonannya.

Amin mengatakan, selama ini dirinya selalu berusaha melakukan upaya perbaikan melalui jalur kultural. Baik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia maupun selaku Rais 'Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama.

Namun dia diajak Joko Widodo untuk menjadi Calon Wakil Presiden. Artinya, dia akan berdakwah, membangun gerakan perubahan melalui jalur struktural di pemerintahan.

Saat ditanya kesediaan untuk mendampingi Jokowi, Amin akhirnya menerima
ajakan tersebut setelah mempertimbangkannya dengan matang dan dukungan paraulama dari NU dan MUI. Keikutsertaannya dalam Pilpres juga menjadi contoh kepada para santri di Indonesia, bahwa santri mampu menjadi apa saja.

Santri disebutnya bisa menjadi kiai, menjadi saudagar, kepala daerah, bahkan menjadi pemimpin negara, seperti yang pernah dicapai Abdurrahman Wahid (Gusdur). 

 

Baca juga: Maulid Nabi di Medan, Amin: Umat jangan Bertengkar meski Beda Capres

 

Pada kesempatan itu dia juga sempat menyinggung soal usia karena banyak pihak meragukan mobilitasnya kelak jika terpilih menjadi Wapres karena usianya yang sudah tidak tergolong muda.

"Siapa bilang saya masih muda? Tapi menurut WHO, organisasi kesehatan dunia, yang namanya tua itu dari usia 80 sampai 100, sehingga dari usia 70 sampai 80, belum tua, masih setengah baya," ujarnya seperti berkelakar dan disambut tepuk tangan para hadirin.

Pada Maret tahun ini, Ma'ruf Amin memang sudah menginjak usia 75 tahun. Namun dia mencontohkan, Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad masih mampu memimpin negaranya dengan baik meski sudah berumur 93 tahun.

Selain itu dia nyatakan, bila Jokowi dan dirinya terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, berbagai perubahan dan pembangunan yang akan diwujudkan bukan hanya untuk masa sekarang. Namun kerja-kerja yang dilakukan juga diperuntukan bagi generasi yang akan datang.

"Saya menanam pohon bukan untuk diri saya, tetapi untuk generasi berikutnya," kata Amin memberi ilustrasi.

Lebih jauh, Jokowi dan dirinya juga akan meningkatkan lagi pembangunan yang sudah banyak direalisasikan. Yang mana saat ini berbagai pembenahan dan pembangunan sudah diciptakan, mulai dari sektor infrastruktur, ekonomi, pendidikan sampai kesehatan.

"Semuanya hasilnya nyata, tapi memang masih ada juga yang menafikkan semua itu. Mereka itu budeg dan tuli," katanya.

Namun dia tidak bermaksud menghina mereka yang berkebutuhan khusus karena makna dari budeg dan tuli tersebut tidak secara fisik. Namun berkaitan dengan hati atau perasaan dan sikap. 

Memiliki mata yang baik tetapi mengaku tidak melihat dan memiliki pendengaran tetapi mengaku tidak mendengar. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya