Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
PARTAI NasDem menilai pernyataan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01 menjadi bagian pendidikan politik bagi rakyat agar dalam memberikan penilaian dilakukan dengan objektif.
"Syarat menjadi pemimpin Indonesia itu harus bisa membikin rakyat optimis dalam menatap masa depan. Bukan malah sebaliknya membikin rakyat takut dan pesimis. Yang membikin rakyat takut itulah diistilahkan politik genderuwo," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai NasDem Effendi Choirie di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (13/11).
Effendi menyoroti polemik yang muncul terkait peryataan yang dilontarkan Capes Jokowi dan Cawapres KH Makruf Amin yang kerap dipersoalkan pihak oposisi. Pria yang akrab disapa Gus Choi itu menilai penyataan Jokowi-Amin yang tengah dijadikan polemik oleh sebagian kalangan masyarakat dinilai merupakan hal yang wajar dan objektif.
Begitu juga dengan sindiran KH Ma'ruf Amin yang menyatakan bahwa orang yang tidak bisa menilai adanya perubahan positif dari pemerintahan Jokowi dengan istilah buta dan tuli, juga benar adanya karena itu memang fakta.
"Tahun politik seperti sekarang memang banyak kelompok masyarakat yang tak objektif dalam menilai segala sesuatu karena ada yang sengaja membangun kebutaan dan ketulian terhadap segala sesuatu yang telah dikerjakan dan dibangun pemerintahan Jokowi," ujarnya.
Ditambahkan, untuk bisa menjadi pemimpin Indonesia bukan hanya memiliki ilmu dan uang yang cukup, tetapi juga paham akan tradisi (kultur) yang berkembang di masyarakat.
Karena itu sangat wajar jika ada sebagian masyarakat yang mengkritik cawapres Sandiaga Uno dinilai tidak menghormati ulama dan kiai sebab dengan seenaknya melangkahi kuburan almarhum KH Bisrie Syansuri saat berziarah ke makam salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama di Pesantren Denanyar Jombang.
"Ziarah kubur maupun tabur bunga di makam itu ada ilmu dan tata krama seperti yang banyak diajarkan di pesantren. Kasus Sandi berarti menegaskan kalau dia tak pernah mengaji atau mendengar hal itu. Sehingga maunya menghormati ulama yang diziarahi tapi karena perilakunya tak mencerminkan penghormatan itu sendiri," ujar Gus Choi.
Partai NasDem sadar betul sehingga tidak berharap adanya coattail effect dari pasangan Jokowi-Amin di Pemilihan Umum Presiden 2019. Alasannya, coattail effect (efek ekor jas) Jokowi diprediksi akan diterima Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, sedangkan untuk KH Ma'ruf Amin bakal diterima Partai Kebangkitan Bangsa.
"Untuk mencari kursi parlemen, kami cari suara sendiri. Sebab dukungan yang diberikan kepada Jokowi-Ma'ruf itu karena memang sangat dibutuhkan Indonesia. NasDem bukan berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri tapi untuk kepentingan Indonesia," katanya. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved