Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUMAHAN subsidi yang menjamur di Provinsi Bangka Belitung (Babel) sepertinya belum tepat sasaran. Pasalnya, pembeli rumah subsidi ini didominasi oleh Aparatur Sipil Negara (ASN). Padahal, semestinya rumah subsidi ini diperuntukkan bagi masyarakat yang belum memiliki rumah.
Ketua Umum DPD Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI), Thomas Jusman, Kamis (3/5), mengatakan pertumbuhan rumah subsidi di Babel sejak empat tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang pesat, mencapai 30%.
"Sejak 2014 hingga 2018, perkiraan itu ada 7-8 ribu unit rumah subsidi yang susah terbangun, ini sudah sampai akad ya, dan ini cenderung yang memiliki adalah PNS/ASN," kata Thomas.
Ia menyebutkan, sebetulnya masih banyak masyarakat di Babel yang belum mempunyai rumah dan berminat untuk memiliki rumah subsidi, tetapi terkendala dengan administrasi perbankan.
"Banyak konsumen ingin punya rumah tapi terkendala administrasi. Syarat pendapatan itu Rp 4 juta, harus punya NPWP, KTP dan syarat lain, dan yang paling penting gak ada sangkut pautnya dengan perbankan, misalnya ada yang kredit macet, itu gak bisa, inilah yang menghambat," jelas dia.
Selain ASN, pegawai swasta dan pendatang juga cukup banyak yang memanfaatkan rumah subsidi ini untuk memiliki rumah pribadi, namun kebanyakan masyarakat Babel memilih rumah dengan type single dan tidak mau yang jauh dari kota.
"Padahal rumah subsidi itu dibangun di pinggiran kota, tetapi di Babel ini banyak yang ada di tengah kota, dan itu lebih diminati," tandasnya.
Indonesia, sambungnya punya program satu juta rumah, baik dengan perumahan subsidi atau subsidi uang muka, dengan KPR bunga murah, dan syaratnya memang sangat ketat, diantaranya belum memiliki rumah, tidak disewa atau sebagai investasi.
"Yang dibangun REI 250.000 se-Indonesia,, dan itu masih kurang, diperkirakan 500 ribu rumah setiap tahun, dan pasangan baru yang ingin memiliki rumah diperkirakan 800.000 per tahun," bebernya.
Ia berharap nantinya, dengan penyederhanaan administrasi di perbankan, bisa membantu masyarakat untuk memiliki rumah.(A-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved