Senin 26 Maret 2018, 03:00 WIB

Batanghariku tak Jernih Lagi

N-1 | Nusantara
Batanghariku tak Jernih Lagi

MI/Solmi
Batanghariku tak Jernih Lagi

 

"WAKTU saya kecil, melihat air Sungai Batanghari jernih. Sekarang keruh, dan mungkin tidak akan pernah jernih lagi!" Ungkapan rasa sedih dan prihatin itu dikemukakan Sekda Provinsi Jambi M Dianto saat melihat kondisi Sungai Batanghari dan anak-anak sungainya yang tidak lagi pernah bening dan tercemar dari hulu sampai ke hilir, kemarin.

Selain keruh akibat perusakan bantaran sungai dan kawasan hutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air di wilayah hulu, mutu air Sungai Batanghari di bagian hulunya tercemar bahan berkimia. Terutama dari kegiatan penambangan emas ilegal yang marak di beberapa kabupaten di wilayah hulu Sub-DAS Batanghari.

Penurunan mutu air sungai terpanjang di Sumatra itu (sekitar 800 kilometer) masih diperburuk perilaku masyarakat dan perusahaan di bagian hilir yang masih seenaknya membuang sampah dan limbah usahanya ke sungai.

Berkaitan dengan momentum Peringatan Hari Air Sedunia ke-26 Tahun 2018 ini, Dianto meminta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi untuk langsung memeriksa mutu air dan tingkat pencemaran Sungai Batanghari saat ini. Terutama dari polutan yang paling ditakuti, yaitu merkuri dari penambangan emas ilegal.

Hasilnya nanti, janji Sekda, secara transparan segera diberitahukan kepada masyarakat. Hal itu penting karena DAS Batanghari yang merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia, dengan luas areal tangkapan 4,9 juta hektare punya peran penting bagi masyarakat di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Tidak hanya sebagai prasarana transportasi dan sumber air pertanian serta perikanan, tetapi juga sebagai sumber air baku untuk keperluan air minum dan memasak. "Jangan sampai terulang lagi kasus kematian massal seperti dialami tiga belas warga suku Anak Dalam (orang rimba) di Kabupaten Batanghari yang ditengarai akibat meminum air sungai yang tercemar," Sekda mengingatkan.

Untuk mencegah terjadinya preseden buruk, Pemprov Jambi terus berupaya menekan tingkat pencemaran di Sungai Batanghari. Salah satu langkah strategis, membangkitkan kesadaran masyarakat dan pihak swasta untuk bersama-sama menjaga lingkungan sungai dan mutu airnya dari hulu ke hilir dari pencemaran.

Direktur Irigasi dan Rawa Kementerian PUPR Mochammad Mazid saat menghadiri peringatan Hari Air Dunia yang ke-26 di Jambi, Kamis (22/3), mengatakan pemasalahan air tidak bisa diselesaikan hanya dengan membangun bendungan, instalasi pengolahan air limbah, atau normalisasi sungai.

Paling penting juga ialah partisipasi masyarakat, akademisi, dan swasta, untuk menjaga dan melestarikan alam agar air dapat dikendalikan. Sebab itu, sebut Mochammad Mazid, pihaknya saat ini gencar melakukan aksi nyata serentak di 34 provinsi untuk mengajak para pemangku kepentingan, masyarakat, akademisi,dan komunitas peduli lingkungan untuk menyosialisasikan pentingnya pelestarian air untuk kebutuhan anak-cucu bangsa di masa depan.

Baca Juga

dok.mi

Muhammadiyah: Maraknya Gangster di Surabaya harus Disikapi Serius

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 04 Desember 2022, 09:05 WIB
PIMPINAN Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Surabaya menyatakan maraknya gangster di Kota Pahlawan, Jawa Timur, akhir-akhir ini harus...
dok.mi

Lemahnya Perencanaan Bikin Serapan Anggaran Pemda di Kalsel Rendah

👤Denny Susanto 🕔Minggu 04 Desember 2022, 08:35 WIB
SERAPAN anggaran pemerintah daerah kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), mayoritas masih rendah. Hal ini berakibat...
MI/Adi Kristiadi

Gempa Guncang Kota Tasikmalaya Warga Berhamburan keluar Rumah

👤Adi Kristiadi 🕔Minggu 04 Desember 2022, 06:46 WIB
GEMPA berkekuatan magnitudo 2,9 guncang Kota Tasikmalaya, Jawa Barat Minggu (4/12) sekitar pukul 04.34 WIB dengan kedalamam 10 km membuat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya