Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
POLDA Sulawesi Selatan (Sulsel) menyatakan siaga satu pascaledakan bom molotov di Polsek Bontoala, Makassar, kemarin sekitar pukul 03.00 Wita.
Kapolda Sulsel, Irjen Umar Septono, menyebutkan peristiwa itu belum terindikasi ada hubungannya dengan kegiatan terorisme.
"Untuk dugaan teroris masih dalam penyelidikan. Kita tidak boleh gegabah. Nanti kita lihat hasil pengembangan dari penyelidikan kawan-kawan gabungan Densus dan Polda. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa diungkap," kata Umar, seusia melihat lokasi kejadian.
Umar menyebutkan, saat ini status keamanan di Sulsel siaga satu.
"Pascakejadian, kita siaga satu dan belum dicabut sampai sekarang," tegasnya.
Pada kesempatan itu Umar juga menjelaskan ledakan terjadi saat selesai pengamanan pergantian tahun.
"Tiba-tiba ada suara ledakan samping polsek. Di belakang dua kali. Pertama tidak begitu keras, yang kedua agak keras. Kapolsek melihat sendiri ada satu orang di situ kemudian melemparkan sebuah benda ke arah dia. Lemparan itu mengenai tangan dan lengan. Anggota lainnya juga terkena bom molotov pada bagian paha dan pantat," ungkap Umar.
Dari sejumlah saksi disebutkan bom molotov yang dilempar ada tiga, dan masih satu bom tertinggal di belakang polsek.
Bom molotov itu berbahan ledak rendah, memiliki sumbu, paku, serta baut.
"Kita terus kembangkan dari tempat kejadian perkara. Ada beberapa barang bukti yang sudah kami kumpulkan termasuk mencari rekaman CCTV di sekitar kita. Semua ini akan kita padukan dengan keterangan saksi," tambahnya.
Barang bukti yang dikumpulkan dari lokasi kejadian adalah ransel berisi dua botol.
Satu botol kosong, sedangkan botol lainnya berisi bahan bakar pertamax.
Kemudian ada pisau dapur, tang, dan jaket.
Pelemparan bom molotov di Polsek Bontoala ini langsung direspons cepat oleh tim gabungan Resmob Polda Sulsel, tim Gegana Brimob, Jatanras Polrestabes, dan Reskrim Polsek Bontoala.
Dari hasil penyisiran, tim gabungan itu mengamankan seorang pemuda yang belum diketahui identitasnya.
Berdasarkan informasi, pemuda itu melihat pelaku setelah melempar bom molotov lari masuk ke halaman Masjid Al Markas Al Islami, tepat di belakang Polsek Bontoala.
Razia petasan
Pada bagian lain, polisi menyita 1 ton mesiu bahan untuk membuat petasan, dan 23 ribu petasan siap edar.
Barang-barang itu disita langsung dari tangan produsennya saat polisi menggelar razia menjelang perayaan tahun baru, Minggu (31/12/2017).
Petasan yang disita dari produsen di kampung mercon Ngembe, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
"Pelaku yang kami tangkap adalah pemilik usaha mercon bernama Robani, 48. Sekarang dia diamankan bersama bahan baku dan 23 bal atau 23 ribu petasan yang siap edar," kata Kapolres Pasuruan, AKBP Reydian Kokrosono.
Reydian menyampaikan bahwa razia dilakukan berdasarkan laporan dari masyarakat yang resah dengan aktivitas pembuatan petasan tersebut.
Saat digerebek, pelaku sempat melarikan diri hingga petugas terpaksa mengejarnya dan berhasil ditangkap.
Selanjutnya, polisi melakukan penggeledehan di rumah pelaku dan sejumlah tempat lain.
"Pelaku dijerat dengan UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 pasal 1. Ancaman hukumannya, maksimal 20 tahun penjara," tegasnya.
Barang bukti yang diamankan polisi itu, antara lain empat karung besar potasium, dua karung gulungan besar petasan mentah. (AB/N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved