Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
HUJAN dengan intensitas tinggi selama tiga hari berturut-turut tidak saja merendam empat kecamatan di Kabupaten Bandung, setinggi satu meter, tetapi juga mengakibatkan tanah longsor dan pohon tumbang.
Hal itu dikemukakan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Tata Irawan seusai meninjau lokasi banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, Kecamatan Baleendah, Kecamatan Bojong Soang, dan Kecamatan Banjaran, kemarin.
“Keempat kecamatan itu selalu banjir saat hujan. Daerah paling parah Dayeuhkolot, banyak wilayah terendam, ketinggiannya pun ada yang 1 meter lebih. Ada 10 kampung terendam di Dayeuhkolot,” kata Tata.
Di kecamatan lain, genangan air baru melanda satu hingga dua kampung. Tata pun memastikan belum ada pengungsi akibat banjir tersebut. “Sudah surut airnya. Kalau hari ini (kemarin) enggak ada hujan, besok (hari ini) sudah surut lagi. Daya serap tanah tergolong tinggi pada musim kering.”
Selain banjir, hujan deras yang turun Jumat (29/9) tersebut telah mengakibatkan tanah longsor dan pohon tumbang di Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan sehingga menewaskan Setia Permana, 66. Menurut Tata, di lokasi tersebut curah hujan sangat tinggi sejak sore hingga malam. Rumah korban yang berada di RT 3/RW 12, Desa Mandala Mekar, tertimpa longsoran tanah setinggi 6 meter yang menyebabkan jebolnya tembok rumah.
“Rumah bagian belakang yang ter timpa. Ketika tanah longsor, korban di dalam rumah,” ungkap Tata.
Di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, BPBD setempat menyatakan empat kecamatan di wilayah tersebut sebagian rawan tanah longsor selama musim hujan.
“Kondisi tanah di beberapa lokasi di Bantul labil dan banyak yang merekah sehingga begitu ada gelontoran air cukup besar bisa menyebabkan tanah longsor,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto.
Empat kecamatan di Bantul yang rawan terjadi tanah longsor itu, lanjut Dwi, yaitu di Kecamatan Pleret, beberapa desa di Piyungan, wilayah Kecamatan Imogiri, dan Pundong dengan tingkat kerawanan berbeda-beda.
Dwi mengakui beberapa lokasi yang dinilai rawan tanah longsor itu karena terdiri atas batuan dan lempung (tanah merah) sehingga pada saat kemarau tahun ini hampir semua permukaan tanah mengalami rekahan.
“Jadi, begitu hujan deras air masuk ke lubang rekahan dan berpotensi menimbulkan tanah longsor. Kalau hanya gerimis tidak masalah,” ujar Dwi.
Dwi menambahkan kejadian tanah longsor pada musim pancaroba atau peralihan musim kemarau ke musim penghujan terjadi di Desa Wonolelo Pleret. Namun, itu tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan berarti. Terkait dengan rekahan-rekahan tanah di Bantul sudah dilaporkan ke BPBD, yaitu ada di Desa Seloharjo Pundong, Desa Srimartani, dan Sitimulyo Piyungan.
“Banyaknya rekahan tanah tersebut kami koordinasikan dengan teman-teman relawan setempat agar mereka mengintensifkan pemantauan untuk mengantisipasi jika terjadi curah hujan cukup ekstrem. BPBD juga mengaktifkan 10 pos darurat di beberapa lokasi rawan bencana baik tanah longsor maupun banjir serta angin kencang,” tandas Dwi. (AT/FU/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved