Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Dua Area Pembangunan LRT di Palembang Rawan Ambles

Denny Susanto
02/8/2017 14:10
Dua Area Pembangunan LRT di Palembang Rawan Ambles
(MI/Dwi Apriani)

JATUHNYA crane dan grider baja bangunan light rail transit (LRT) Sumatra Selatan yang menimpa rumah warga, Selasa (1/8), menjadi pukulan bagi Waskita Karya selaku kontraktor dan Pemprov Sumsel selaku pemilik wilayah.

Bahkan dengan gesit, Waskita Karya langsung melakukan evaluasi dan mengecek area-area lain di sepanjang pembangunan LRT yang berpotensi terjadi hal serupa.

Ketua Proyek Utama Pembangunan LRT Sumsel, Marsudi Jauhadi mengatakan, di sepanjang jalur LRT ini ada dua titik yang dinilai rawan pada saat pemasangan grider LRT. Lokasi pertama berada di zona 3 tepatnya di Jalan Kapten A Rivai Palembang. "Di tempat ini, sudah banyak aspal mengelupas, sehingga sangat berpotensi tanah jadi ambles," kata dia.

Adapun lokasi kedua yakni berada di simpang empat Bandara SMB II. Hal itu dikarenakan, di kawasan ini grider yang akan dipasang bersentuhan langsung dengan bangunan Fly Over Simpang Bandara yang sekarang juga sedang dikerjakan oleh pihak lain yang sudah ditunjuk.

Oleh karena itu, butuh persiapan yang benar benar matang agar tidak kembali terulang insiden jatuhnya crane seperti sebelumnya. "Untuk lokasi di Simpang Bandara ini benar-benar rawan sebab kita butuh crane berkapasitas 200 ton untuk mengangkat grider nantinya," ucap Marsudi.

Marsudi mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan. Namun karena pekerjaan lifting steel box dekat dengan permukiman warga sehingga sangat berpotensi.

Selain itu sudah mempertimbangkan kondisi tanah sehingga pada pelaksanaannya crane dilapisi baja untuk menjaga pijakan crane supaya tetap kuat. "Kita akan upayakan agar tidak lagi kembali terjadi insiden seperti kemarin. Untuk saat ini evakuasi sedang dilakukan dilokasi jatuhnya grider dan crane, harapannya dalam waktu dekat evakuasi sudah tuntas sehingga pekerjaan bisa kembali dilanjutkan," ujar Marsudi.

Setidaknya untuk pemulihan lokasi itu, pihaknya butuh waktu sepekan untuk bisa melanjutkan lagi. Evakuasi sendiri terlebih dahulu dilakukan mengangkat crane yang patah. Setelah itu, bisa dilanjutkan evakuasi grider.

"Kita juga sudah mendatangi para korban danmenawarkan tempat tinggal sementara, tapi mereka menolak dan ingin tinggaldi tempat keluarga mereka," katanya.

Pihaknya berjanji akan bertanggungjawab penuh atas insiden itu, dan menanggung semua biaya pengobatan dan kerusakan yang terjadi oleh korban. "Untuk total kerugian masih diperhitungkan, kita ingin secepatnya ini tuntas sehingga bisa dilanjutkan pengerjaannya," terang Marsudi.

Ditambahkan Ketua Project Management Unit Pembangunan LRT Sumsel, Nasrun Umar mengatakan, ganti rugi kerusakan dan penanganan korban dipastikan diberikan kontraktor secepatnya. Dia berharap, kejadian ini tidak terulang lagi dengan melakukan spekulasi yang matang sebelum dilakukan kegiatan.

"Untuk penyebabnya masih tunggu hasil labfor, tapi sementara karena tanah amblas, tidak ada faktor lain," kata dia.

Kapolresta Palembang, Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono menegaskan apabila ada unsur kelalaian dari operator dan pekerja LRT saat melakukan tugas hingga menyebabkan crane roboh, maka yang bersangkutan akan diproses secara hukum.

"Belum diketahui unsur kelalaian atau tidak. Saat ini masih dalam pemeriksaan. Apabila memang terjadi ada bisa diproses secara hukum," ujar dia.

Diketahui, pasca robohnya crane yang menimpa rumah warga di Jalan Gubernur HA Jakabaring Palembang, Selasa (1/8) dini hari sebanyak sepuluh orang pekerja LRT digelandang ke Polresta Palembang dengan tiga orang diperiksa secara intensif.

"Tiga orang operator crane sudah kita periksa. Kita mintai keterangan mengenai kronologinya," tandasnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya