Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Ketua HKTI Sumut: Hentikan Impor Sayur ke Sumatra Utara

Puji Santoso
19/7/2017 16:20
Ketua HKTI Sumut: Hentikan Impor Sayur ke Sumatra Utara
(ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

KETUA Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) wilayah Sumatra Utara Gus Irawan Pasaribu mendesak pemerintah menghentikan impor sayur ke Sumatra Utara yang sebenarnya bisa dipenuhi dari pasokan lokal.

Ia mengaku sangat miris mengingat impor sayuran masih sangat tinggi ke provinsi yang berstatus sebagai sentra penghasil sayur ini. Ironisnya volume impor sayuran, terus bertambah.

"Malah kalau saya tidak salah di tahun 2012 jumlahnya meningkat hingga 35 persen. Padahal kita tahu sendiri sentra sayur kita cukup banyak dari Simalungun, Karo dan wilayah Tapanuli. Tapi kita harus impor lo," katanya kepada usai meresmikan Pusat Kebun Hidroponik Hidrotani Sejahtera Sei Mencirim, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara, Rabu (19/7).

Gus yang juga Ketua Komisi VII DPR RI ini mengatakan nilai impor sayur yang masuk Sumut itu nilainya ada di kisaran US$30 juta per tahun. Secara nasional jumlah impor sayur mencapai US$500 juta per tahun.

Permintaan paling banyak itu memang dari hotel terutama standar internasional yang anggapannya tidak bisa dipenuhi dari produksi lokal.

Dia menegaskan sayuran impor yang paling banyak masuk Sumut itu seperti bawang merah, bawang putih, wortel, jamur, cabai, bayam, sayuran segar lainnya, kentang dan kacang kapri. Sedangkan negara asalnya yakni China, Myanmar (Burma), Australia, India, Thailand, Ethiopia, Malaysia, Vietnam, United Kingdom (UK), Kenya dan Amerika Serikat.

Begitupun, sayuran impor ini juga sudah mulai beredar di sejumlah pasar maupun supermarket di Sumut diantaranya cabai, kentang, kubis, bawang putih dan bawang merah. Sejumlah komoditas ini sudah bebas dibeli oleh masyarakat (konsumen).

Hal ini sangat dikhawatirkan akan meningkatkan konsumsi sayuran impor. "Bayangkan sebenarnya di Sumut semua ada tapi masih harus didatangkan dari luar negeri. Itu sebabnya tekad saya untuk mengembangkan tanaman hidroponik dengan basis produksi sayur ini akan bisa menjangkau seluruh wilayah Sumatra Utara," tuturnya.

Hingga saat ini hidro tani sejahtera yang ada di Sei Mencirim sudah berproduksi tapi baru dimanfaatkan untuk konsumsi masyarakat setempat. "Jiran tetangga yang ada di sini menjadi salah satu orang yang pertama menikmati panennya. Tentu selain sayur kami juga merancang peternakan ikan," ungkapnya.

Gus mengaku makin memahami kenapa masyarakat Sumut masih tertinggal dengan daerah lain. Faktanya adalah karena berbagai potensi yang ada tidak dimanfaatkan secara maksimal. Dengan membuat hidro tani sejahtera dengan nama produksi nabati, dia berharap produk segar produksinya akan menembus semua level pasar.

"Lucunya malah ada sayur yang kita impor dari Singapura. Ini tidak masuk akal. Singapura itu tidak ada tanahnya. Itu bagaimana, kenapa kok ya buat miris. Wajar kalau kemudian produksi sayur kita tidak kompetitif," ujarnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya