Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Petani di Aceh Gagal Panen Akibat Kekeringan

Ferdian Ananda Majni
19/7/2017 10:47
Petani di Aceh Gagal Panen Akibat Kekeringan
(Ratusan hektar sawah di Kecamatan Darul Kamal, Kecamatan Darul Imarah, Kecamatan Darul Makmu, dan Kecamatan Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar terancam puso akibat kekeringan, Senin (18/7). -- MI/Ferdian Ananda Majni)

PETANI padi di sejumlah kabupaten/ kota di Aceh mengalami gagal panen setelah puluhan hektare sawah mereka dilanda kekeringan panjang sejak sebulan terakhir. Bahkan, belasan hektare sawah di Aceh Besar dipastikan puso.

Dari pantauan Media Indonesia, di Kecamatan Darul Imarah dan Darul Kamal, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, para petani yang menanam padi jenis gogo di lahan tadah hujan mengalami kerugian puluhan juta.

Zulkifli, salah seorang petani, Rabu (19/7) mengatakan, sawah petani di dua kecamatan tersebut mengalami kekeringan selama hampir sebulan akibat musim kemarau panjang dalam beberapa bulan terakhir. "Sudah dari pertengahan puasa, tidak hujan di desa kami. Sehingga perkembangan padi tidak normal, bahkan padi tidak berisi" katanya.

Menurut Zulkifli untuk menanggulangi kekeringan di wilayahnya, dia meminta pemerintah membangun embung dan sumber air lainnya agar petanian di Aceh Besar bisa mencapai dua kali tanam setahun.

Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Tarmizi kepada Media Indonesia, Rabu (19/7) mengatakan pihaknya telah menanggulangi kekeringan yang melanda kawasan pertanian di Aceh Besar. Namun, kekeringan parah itu melanda kawasan sawah tadah hujan.

"Sebenarnya kekerigan ini bukan hanya di wilayah Aceh Besar, tapi seluruh Aceh. Pak bupati juga sudah ngecek langsung, jadi sebenarnya, ini musim tanam jagung karena tidak ada air," katanya.

Ia menambahkan, pemerintah Aceh Besar hanya menargetkan penanaman padi di musim kedua tahun ini, hanya berkisar 18 ribu hektare. Namun, setelah pengcekan ternyata petani yang menanam padi mencapai 20 ribu lebih, sehingga kebutuhan air tidak mencukupi.

"Jadi kawasan yang mengalami kekeringan itu, jauh dari jangakauan waduk dan sungai, sehingga target pemerintah hanya diperuntukan untuk 18 hektare, ternyata lebih yang digarap petani," lanjutnya.

Ia menjelaskan, pihaknya mengalami surplus saat musim rendengan. Oleh karena itu, kebutuhan air mendesak saat musim gadu. Apalagi, debit air juga berkurang saat musim kemarau.

"Jika di musim tanam musim rendengan kebutuhan air mencukupi dan teraliri semua airnya. Jadi kadang-kadang ada sawah yang tidak direkom atau tidak diizinkan untuk tanam saat musim gadu, tetapi masyarakat tetap tanam. Nah, kami tidak bisa mencegahnya," sebutnya.

Sementara itu, guna meminimalisir kegagalan panen sejumlah petani di Aceh Besar, ia mengaku telah berkoodinasi dengan personil babinsa dan Keujruen Blang (tetua desa yang mengatur pembagian aliran air sawah) melakukan pembagian air di sejumlah titik sumber air.

"Kita akan turun ke lapangan bersama babinsa, danramil untuk menjaga air dari wilayah Krueng Jeu dan bendungan Krueng Aceh. Jadi kami akan melakukan pembagian air, sehingga semua kebagian dan air bisa dimanfaatkan," pungkasnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya