ANDA merasa diri tampan? Waspadalah, Anda terancam diskriminasi di dunia kerja. Seorang jurnalis portal berita TheGuardian, Tim Dowling, mengingatkan para pria tampan dan atraktif seperti dirinya agar lebih jeli saat wawancara kerja. Menurutnya, pria tampan cenderung tidak jadi pilihan karena pesonanya kerap mengintimidasi psikis pewawancara kerja.
"Ini mungkin terdengar seperti intuisi membela diri, tidak untuk saya. Ini prasangka yang telah saya hadapi sepanjang hidup," demikian curahan hati Dowling dalam kolom yang diunggah portal berita itu, Rabu (9/12).
Dowling mengklaim termasuk barisan pria penuh pesona yang mengintimidasi pria lainnya, termasuk pewawancara pria. "Saya telah kehilangan banyak kesempatan kerja karena penampilan saya," tuturnya.
Ia menganalisis pewawancara pria merasa terancam karena mengasosiasikan ketampanan secara irasional dengan kompetensi. Karena itu, Dowling menganjurkan para pelamar kerja yang merasa tampan untuk tampak lebih 'manusiawi' dengan membuat beberapa 'kecacatan'. Misalkan, datang sedikit telat dari jadwal wawancara atau mengemukakan ide yang tidak terlalu atraktif terkait posisi yang dilamarnya.
"Meski saya sudah mahir dengan strategi ini, saya masih sering kehilangan kesempatan kerja karena terlalu tampan. Ini gambaran betapa seringnya saya didiskriminasi," keluhnya.
Atau, meski agak kontradiktif, Dowling menyarankan untuk membuat si pewawancara menyadari bahwa pelamar tahu betul dirinya tampan, dan menekankan agar ketampanan itu bukan alasan tidak lolos wawancara. Untuk itu, lanjut Dowling, tidak usah segan memulai sesi wawancara dengan kalimat yang ekse ntrik seperti, "Hanya karena saya ganteng, bukan berarti nama saya 'Rupawan'."
Bisa juga dengan mengenakan setelan yang amat sederhana untuk menyembunyikan kegantengan, seperti jaket dan celana lusuh serta bersikap rendah hati. Masih ada jurus terakhir Dowling, yakni menyortir foto di akun media sosial. "Segera setelah sadar Anda tampan, mereka pasti mencari tahu juga di Google. Pastikan tidak ada foto Anda yang terlalu fotogenik di sana," tandasnya.
Bahkan Dowling pernah meminta temannya, Barry, untuk mencabut penandaan (untag) akunnya di media sosial dari sebuah foto dirinya yang diunggah Barry. "Foto itu terlalu atraktif."
Lantas, benarkah semua 'cah bagus' bernasib sama di dunia kerja?
Berlawanan dengan pengalaman Dowling, riset jurnal mengenai perilaku organisasi dan pengambilan keputusan manusia dari Elsevier.com malah menyebut pria tampan punya kredit tersendiri saat mencari kerja.
"Mereka dinilai lebih kompeten ketimbang rivalnya yang lebih tidak atraktif. Tentu ada saja pria yang menganggap rekan kerja tampan sebagai ancaman." (Fathia Nurul Haq/E-4)