Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Seluruh Waduk di DKI Harus Diperluas

Putri Anisa Yuliani
11/12/2015 00:00
Seluruh Waduk di DKI Harus Diperluas
(Antara Foto)
DEWAN Sumber Daya Air DKI Jakarta meminta pemerintah provinsi (pemprov) tidak sekadar menormalisasi waduk-waduk yang ada di Ibu Kota. Untuk menambah daya dukung waduk terhadap tata ruang dan manajemen air, pemprov harus memperluas dan memperdalam waduk yang ada. "Tanpa menyampingkan upaya pemerintah, saya tetap menilai waduk kita harus diperdalam dan diperluas. Itu sangat perlu karena kondisinya memprihatinkan setelah 40 tahun lebih tidak tersentuh," kata anggota Dewan Sumber Daya Air DKI Jakarta Firdaus Ali ketika dihubungi Media Indonesia, beberapa waktu lalu. Meskipun demikian, ia mengapresiasi kinerja Pemprov DKI yang dua tahun terakhir memberi perhatian pada waduk dan sungai-sungai di Jakarta.

Beberapa waduk dinilainya mulai kembali ke kondisi normal secara bertahap, yaitu Waduk Kebon Melati di Jakarta Pusat dan dua waduk di Jakarta Utara, yakni Ria Rio dan Pluit. Menurut Firdaus, waduk bisa menjadi alternatif untuk menampung aliran air di hilir jika dikelola dengan baik. Makin sulitnya menambah ruang terbuka serta meluasnya pembetonan dan peng-aspalan jalan hingga ke permukiman padat penduduk membuat area resapan air semakin minim. Padahal, risiko banjir kian meningkat dengan meluapnya air sungai karena proyek normalisasi yang baru menjangkau beberapa tempat, sementara pembangunan salah satu waduk besar, Waduk Ciawi-Sukamahi yang direncanakan berlokasi di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, hingga kini belum terlaksana.

Firdaus juga mengatakan harus ada peran serta pemerintah pusat dalam menangani normalisasi sungai di hulu dan pembangunan waduk di Bogor. "Sebab menangani daerah hulu lebih sulit. Banyak permukiman mewah vila-vila yang dimiliki para pejabat. Pemprov DKI dan Pemerintah Kabupaten Bogor tidak akan sanggup (menyelesaikan)," ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Teguh Hendarwan mengatakan perluasan waduk-waduk baru akan diprogramkan pada tahun depan. Saat ini ia baru menginventarisasi dan meneliti kondisi waduk.

"Saya kan baru dilantik jadi kepala dinas. Saya juga sedang mempelajari kondisi waduk-waduk di Jakarta. Sekarang sedang diteliti, sebab kami harus pastikan apakah kondisi di lapangan sesuai dengan dokumen, dari segi luas, dalam, batas-batas, dan sebagainya," kata Teguh. Ia juga mengatakan penelitian kondisi waduk bisa memakan waktu lama. Setelah mengetahui kondisi waduk, barulah Dinas Tata Air bisa membuat program kerja, termasuk rencana pembebasan lahan dan penertiban waduk. "Pembebasan lahan tidak bisa serta-merta kita lakukan. Harus ada detailnya, mengapa (waduk) itu harus diperluas, bagaimana dampak lingkungannya, sistem airnya. Kalau di sekitar waduk ada warga yang menghuni liar, mau direlokasi ke mana? Itu harus dipikirkan matang," terangnya.

Tergenang banjir
Di tengah upaya Pemprov DKI menanggulangi banjir, permukim-an penduduk di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, kemarin, terendam banjir. Banjir setingi 1,5 meter terjadi akibat meluapnya Sungai Ciliwung setelah hujan mengguyur wilayah Bogor, Jawa Barat, yang merupakan hulu sungai tersebut. Menurut salah seorang warga, air mulai menggenangi rumah penduduk pada dini hari. Pagi harinya warga pun mulai mengemasi barang dan memindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Warga memilih tetap bertahan di rumah masing-masing. Mereka hanya berharap proyek normalisasi Sungai Ciliwung segera selesai agar tidak terjadi banjir lagi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya