Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Pengalaman Baru dari Wisata Alternatif

Akmal Fauzi
11/12/2015 00:00
Pengalaman Baru dari Wisata Alternatif
(MI/RAMDANI)
MENCARI hal baru dan unik mungkin bisa menjadi obat untuk segala kejenuhan dari aktivitas saban hari. Bepergian ke tempat yang tidak biasa dan dilakukan dengan cara yang juga tidak biasa bisa menjadi pilihan agar liburan tidak berlalu sia-sia. Kesempatan itu tentu dimanfaatkan beberapa orang ataupun komunitas untuk melakukan perjalanan wisata yang unik dan tentunya bertujuan mendapatkan pengalaman baru. Komunitas Historia Indonesia (KHI) ialah salah satunya. Komunitas yang melakukan kunjungan ke tempat bersejarah itu mengemas perjalanan mereka dengan cara yang tidak biasa. Misalnya, mengunjungi ke museum saat malam hari.

KHI pernah melakukan perjalan ke Kota Tua, Jakarta Barat, dengan mengelilingi museum dan beberapa titik sejarah lainnya pada malam hari. Pengunjung diperlihatkan sisi lain dari Kota Tua yang justru banyak orang yang belum tahu. "Orang paling tahu Kota Tua itu kan Museum Fatahillah. Orang-orang enggak tahu ternyata ada sisi lain ketika datang malam hari ke Kota Tua. Ada sisa benteng, ada ruang bawah tanah dengan artefak-artefak yang ada di dalamnya menjadi hidup. Dan kekuatan kami di situ," kata pendiri KHI, Asep Kambali. Tentunya, kata Asep, pengunjung diberi pengetahuan yang luas terhadap tempat yang didatangi. "Yang diperhatikan tempat itu harus ada bahan bacaan yang banyak. Itu dilakukan untuk menambahkan daya imaginatifnya dengan cerita fakta-fakta."

Asep menambahkan, untuk menumbuhkan daya imaginatif pengunjung saat melakukan perjalanan ke tempat wisata tersebut, KHI mempunyai metode yang unik, kreatif, dan merangsang hasrat petualangan khusus. Peserta tur diajak masuk ke peristiwa dan seolah berada dan menyaksikan langsung peristiwa sejarah tersebut. Misalnya, kata Asep, peristiwa Sumpah Pemuda. Ketika seseorang hanya membaca teks Sumpah Pemuda, itu hal yang biasa. Namun, jika mendatangi ke tempat peristiwa itu berlangsung dari mulai proses hingga teks itu dideklarasikan, pengunjung akan mendapat hal yang lain.

"Ketika baca teksnya itu biasa aja, tetapi ketika kita ke rumahnya, tempat sumpah pemuda diselenggarakan, kita melihat ruangannya, melihat artefak-artefak yang ada. Jadi, kita mengalami proses imaginatif dan diarahkan dengan fakta-fakta yang ada dengan cerita-cerita," jelas Asep. Hal itu penting karena sejarah bukan satu hal yang banyak diminati dan dicintai masyarakat. Dengan metode demikian, masyarakat yang datang ke tempat bersejarah itu akan memahami dan mencintai tempat sejarah tersebut.

Menurut Asep Proses edukasi yang diberikan juga dapat membangun aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sehingga wisatawan mengetahui informasi-informasi yang ada di situ. Selain itu, kepedulian dan kesan indah serta menarik terhadap tempat wisata juga perlu ditumbuhkan kepada mereka. Jadi, ada unsur kreatif, edukatif dan entertaiment. Dijelaskan Asep, anggota atau masyarakat umum yang pernah melakukan perjalanan wisata bersama KHI kebanyakan menyukai tempat-tempat sejarah dengan bentuk monumental, seperti benteng, goa-goa bersejarah, dan ruang bawah tanah. Agung Sugianto, 23, salah satu anggota KHI mengaku mendapat pengalaman baru dan sensasi lain dengan metode yang dilakukan KHI. "Sulit diucapkan kata-kata," ungkapnya setengah promosi.

Wisata uji nyali
Ada juga wisata uji nyali yang berlokasi di Taman Permakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Mereka yang ingin beruji nyali datang secara berkelompok. Mereka diantarkan ke beberapa titik yang dianggap paling angker di TPU yang luasnya kurang lebih 9 hektare itu oleh kuncen TPU Jeruk Purut. Dari kelompok itu, mereka nantinya menyebar saat berada di satu titik yang dianggap angker. "Jadi, babeh cuma memandu. Babeh antarkan ke titik-titik yang seram, lalu babeh tinggal. Nanti mereka menyebar, ya mereka terserah kalau sudah di titik itu mau berdiri aja, duduk, tiduran. Intinya mereka mau uji nyali. Kalau gak kuat mereka balik lagi ke tempat babeh di warung dekat TPU," kata Babeh Ook, kuncen TPU Jeruk Purut saat berbincang dengan Media Indonesia, Sabtu (5/12) malam lalu.

Di TPU Jeruk purut, ada empat titik yang dianggap paling seram, yaitu di pohon kembar, pohon benda, sumur tua, dan makam keramat. Biasanya, kata Babeh Ook, orang yang berkunjung ke TPU Jeruk Purut paling ramai pada Kamis malam, Jumat malam, dan Sabtu malam. Orang yang datang bahkan mencapai lebih dari 100 orang. TPU itu mulai dikunjungi untuk uji nyali pada 2000-an. Namun, kata Babeh Ook, pengunjung mulai ramai saat keluar film Hantu Jeruk Purut pada 2006. "Sebenarnya enggak ada tarif yang mau datang ke sini, paling uang rokok saja. Yang jelas dan penting mereka harus izin dulu sama babeh, kalau gak izin, nanti ada apa-apa, kesurupan, babeh enggak tanggungjawab," ucapnya.

Dari pantauan Media Indonesia di lokasi, saat jam menunjukan pukul 00.00, para pengunjung mulai ramai berdatangan. Mereka yang datang biasanya kelompok usia 20-30 tahun. Bahkan, parkiran yang disediakan penuh. Babeh Ook mengatakan biasanya mereka yang datang untuk melakukan tes uji nyali saja. Namun, ia mengatakan ada beberapa memang yang mengambil kesempatan itu untuk ajang perjudian.

"Ya itu mah yang otaknya judi aja. Tapi rata-rata memang untuk uju nyali, ini kan banyak yang sebut wisata misteri," lanjutnya. Irpandi, 22, salah satu pengunjung TPU Jeruk Purut mengaku sudah tiga kali berkunjung ke tempat tersebut untuk melakukan uji nyali. Menurutnya, berkunjung ke tempat angker itu mempunyai sensasi yang berbeda jika dibandingkan dengan berkunjung ke tempat wisata. "Sebenarnya untuk kepuasan saja. Ada sensasi beda gitu. Intinya uji nyali saja, enggak ada yang lain," kata mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jakarta itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya