Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Bangun Dua Rumah dari Kotak Amal Bodong

Deni Aryanto/J-1
04/12/2015 00:00
Bangun Dua Rumah dari Kotak Amal Bodong
(MI/PANCA SYURKANI)
SIAPA nyana, bermodal baju koko, peci hitam, dan sebuah kotak amal, kini Feriyadi, 35, bisa punya dua rumah.

"Rumah saya dua, di Pasar Kemis (Tangerang) dan Parung Panjang (Bogor). Itu hasil saya keliling bawa kotak amal," tutur Feriyadi.

Diakuinya, berkecimpung dalam bisnis 'kotak amal', demikian ia menyebutnya, membuat hidupnya kini lebih berkecukupan ketimbang dulu sebagai buruh pabrik konveksi.

Ia tak mau disebut sebagai penipu atau pengumpul sedekah bodong.

Ia berkukuh apa yang dilakukannya itu ialah upaya untuk mengetuk hati dermawan.

Baru dari sumbangan yang terkumpul itu, sambung Feriyadi, disisihkannya sebagian untuk keperluan pribadinya.

Dengan jam kerja mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00, ia bisa meraup minimal Rp70.000 per hari.

"Kalau lagi mujur, bisa sampai Rp300.000," tegasnya.

Feriyadi mengaku sudah terjun dalam usaha itu sejak 14 tahun silam, saat ia diberhentikan oleh sebuah perusahaan konveksi.

Saat itu, di tengah kebingungannya mencari kerja, ia bertemu Sri yang mengajaknya bergabung dalam bisnis 'kotak amal'.

Ia pun langsung mengiakan ajakan itu karena tergiur penghasilan yang akan didapatnya.

"Sri itu koordinator jaringan kotak amal. Dia punya 97 anak buah. Setiap orang harus setor Rp30 ribu ke dia," ujar warga Jalan Angke Indah I, RT 11/01, Tambora, Jakarta Barat itu.

Setiap hari, sambungnya, Sri membagi wilayah kerja anggota jaringannya agar tak bersinggungan.

Sri juga mewajibkan para anak buahnya untuk hanya beroperasi di kompleks perumahan atau permukiman padat.

"Itu untuk menghindari patroli petugas," ujarnya.

Selama 14 tahun, usaha itu berjalan lancar.

Feriyadi pelan-pelan bisa membangun dua rumah setelah menabung sedikit demi sedikit hasil sisihan para dermawan.

Namun nahas, ia tertangkap petugas Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) saat tengah beraksi beberapa hari lalu.

Petugas pun menggelandangnya ke Panti Sosial di Kedoya, Jakarta Barat.

"Dia tertangkap saat sedang meminta amal di sekitar Jalan Kebon Pala I, Pasar Kambing, Tanah Abang. Saat diperiksa, keterangannya mengarah pada dugaan adanya jaringan atau komplotan. Kita langsung kejar koordinatornya yang bernama Sri. Untuk membongkar jaringan ini, saya sudah berkoordinasi dengan Suku Dinas Sosial Jakarta Barat," kata Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat, Susana Budi Susilowati, saat ditemui.

Ia menekankan, jaringan kelompok Sri hanyalah sebagian kecil 'industri' kotak amal bodong di Jakarta.

"Saya juga pernah menemukan ada orang yang pakai seragam karang taruna dan meminta sumbangan. Tapi saat ditanya kenapa tidak meminta ke dinas sosial, ia tampak kebingungan," tutup Susana.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya