Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Antara Culture Shock dan Dayung Perahu: Realita Pekerja di Tengah Banjir Jakarta

Golda Eksa
23/1/2026 13:05
Antara Culture Shock dan Dayung Perahu: Realita Pekerja di Tengah Banjir Jakarta
Sejumlah polisi membantu warga menaiki perahu karet untuk akses transportasi selama banjir di Pondok Karya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026) .(Antara/Luthfia Miranda Putri)

JUMAT (23/1) pagi, riak air di kawasan Pondok Karya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, bukan sekadar genangan biasa. Di tengah kepungan air setinggi 55 sentimeter, sebuah pemandangan kontras terlihat: warga mengenakan pakaian kerja rapi, namun harus bertengger di atas perahu karet untuk memulai aktivitas.

Bagi Nurul, seorang pekerja swasta, ini adalah pengalaman perdana yang tak terlupakan. Baru sebulan bermigrasi dari Bogor ke Jakarta demi tuntutan pekerjaan, ia langsung disambut 'tradisi' tahunan Ibu Kota. "Kebetulan aku mau berangkat kerja hari ini," ujar Nurul saat ditemui di lokasi, Jumat (23/1).

Nurul mengaku kantornya tetap mewajibkan karyawan masuk meski akses menuju rumahnya lumpuh. Ia sempat merasa terkejut dengan realita banjir yang selama ini hanya ia saksikan lewat layar kaca.

"Agak culture shock ya, soalnya kebetulan aku dari Bogor, makanya pas pindah ke sini kayak 'oh ya ampun ternyata kaya gini ya banjir yang kaya di TV-TV itu'," ungkapnya. Beruntung, ia difasilitasi transportasi perahu oleh petugas untuk mencapai titik yang kering.

Banjir Langganan
Berbeda dengan Nurul, Novi sudah jauh lebih 'akrab' dengan air bah. Baginya, banjir di Pondok Karya bukanlah tamu baru, melainkan masalah menahun yang sudah mengakar sejak dua dekade silam.

Mengingat mobilitas yang sulit, ia menyarankan agar otoritas terkait menambah jumlah perahu bantuan di titik-titik krusial untuk memudahkan akses warga. "Banjir sering di sini, mau mengungsi ke rumah saudara," kata Novi. 

Berdasarkan data di lapangan, sebanyak 32 kepala keluarga (KK) terdampak banjir di wilayah ini. Hingga pukul 09.00 WIB, air yang sempat menyentuh ketinggian satu meter dilaporkan mulai berangsur surut.
Sinergi Evakuasi di Lapangan

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes I Putu Yuni Setiawan, turun langsung memantau proses evakuasi. Bersama unsur Muspika, kelurahan, hingga Danramil, pihaknya memastikan aliran air tetap lancar dan tidak tersumbat.

"Kita meninjau ke dalam ketinggian air sudah terus berangsur-angsur surut atau turun. Sekarang saat ini sudah ada di ketinggian 55 cm," ujar Putu Yuni.

Ia menaruh harapan pada cuaca agar hujan tidak kembali mengguyur Jakarta dalam waktu dekat. "Mudah-mudahan tidak ditambah lagi diguyur hujan sehingga itu akan terus turun karena aliran air itu lancar, tidak tersumbat dan menggenang," tambahnya.

Meski air masih menggenang, mayoritas warga memilih bertahan di lantai dua rumah masing-masing. Putu Yuni memastikan posko terpadu telah disiagakan dengan personel dan perahu yang siap sedia 24 jam.

"Kemudian untuk selama banjir, ini bisa menghubungi kita pihak keamanan, misalnya untuk keluar atau masuk," pungkasnya sembari mengimbau warga untuk tetap menjaga kebersihan selokan. (Ant/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya