Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Proyeksi Laba Rp1 Triliun, Pramono: Menurut Saya Terlalu Kecil, enggak Istimewa Bagi Bank Jakarta

Mohamad Farhan Zhuhri
22/1/2026 19:30
Proyeksi Laba Rp1 Triliun, Pramono: Menurut Saya Terlalu Kecil, enggak Istimewa Bagi Bank Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.(MI/M Farhan Zhuhri )

BANK Jakarta memproyeksikan akan meraup laba sebesar Rp1 triliun pada tahun 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku heran dengan target tersebut.

Ia memandang, target laba Bank Jakarta sebesar Rp1 triliun terlalu kecil bila melihat nilai aset yang dimiliki bank pembangunan daerah (BPD) milik Pemprov DKI tersebut.

"Bank Jakarta mempunyai target untuk bisa untung sampai dengan 1 triliun. Menurut saya sebenarnya terlalu kecil untuk Bank Jakarta. Karena apa? Tadi juga dilaporkan, dana yang ada, gede banget yang dikelola," kata Pramono di Pullman Jakarta Central Park, Jakarta Barat, Kamis (22/1).

Ia mengaku dirinya cukup memahami perhitungan dunia bisnis, berdasarkan pengalamannya. Sehingga, Ia meminta Bank Jakarta meningkatkan nominal laba yang ditargetkan.

"Kalau untungnya cuma Rp1 triliun, biasa-biasa aja, enggak istimewa. Tadi kan saya langsung lirik, duitnya segitu, ingin untungnya Rp1 triliun. Karena Gubernur Jakarta kali ini dulunya businessman, sehingga saya tahu banget," ungkap dia.

Kendati demikain, Pramono memandang tantangan utama Bank Jakarta ke depan bukan semata soal angka laba, melainkan pembentukan budaya kerja yang kuat dan konsisten.

Ia menekankan pentingnya corporate culture sebagai fondasi utama pengelolaan bank, terlebih dalam persiapan menuju penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

"Kata kunci yang paling utama yang harus dibangun di Bank Jakarta mulai sekarang ini adalah corporate culture-nya. Apa itu corporate culture? Yang paling utama ini sudah harus menjadi budaya kerja dan inheren di dalam dirinya yang ada di Bank Jakarta," jelasnya.

Ia juga menyinggung kesiapan Bank Jakarta untuk melantai di bursa. Menurutnya, pembentukan budaya kerja yang kuat dan transparan menjadi prasyarat mutlak agar bank tersebut layak menjadi perusahaan terbuka.

"Sekarang Bank Jakarta akan mempersiapkan diri untuk menjadi bank yang di-IPO-kan. Maka untuk menjadi bank IPO tadi, corporate culture-nya itu betul-betul harus dibentuk dan sudah menjadi inheren di dalam perusahaan ini," urai dia.

Selain budaya kerja, Pramono menyoroti pentingnya disiplin waktu dan kerja tim. Ia mencontohkan perubahan budaya on time di lingkungan Balai Kota sebagai bagian dari pembenahan corporate culture di pemerintahan.

Dalam konteks perbankan, Pramono mendorong agar kerja tim di Bank Jakarta lebih mengedepankan pendekatan work smart ketimbang sekadar work hard. Ia menilai efisiensi dan kecermatan menjadi kunci dalam mencapai kinerja berkelanjutan.

"Yang berikutnya yang perlu dipersiapkan oleh Bank Jakarta adalah teamwork-nya. Ada dua pilihan, apakah teamwork-nya ini menjadi teamwork yang work hard atau work smart. Saya menyarankan karena ini dunia perbankan, enggak perlu terlalu work hard, tetapi harus work smart," jelas Pramono.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Jakarta Agus Haryoto Widodo menyampaikan bahwa tahun 2026 diposisikan sebagai fase eksekusi dan konsolidasi kinerja. Target laba Rp1 triliun disebut sebagai pijakan untuk memperkuat fundamental bank.

"Memasuki 2026, kami posisikan sebagai tahun eksekusi dan konsolidasi kinerja dengan target laba 1 Triliun. Target kami tetapkan sebagai basis penguatan fundamental Bank Jakarta dan pijakan penting menuju fase berikutnya," ungkapnya.

Agus memaparkan bahwa laba bersih Bank Jakarta pada 2025 tercatat sebesar Rp345 miliar. Kondisi ini dipengaruhi langkah penguatan struktural, khususnya penguatan pencadangan, penyesuaian kebijakan risiko, serta investasi signifikan pada penguatan teknologi informasi dan keamanan siber sebagai tindak lanjut pembelajaran dari insiden siber yang pernah terjadi.

"Hingga Desember 2025, total aset Bank Jakarta mencapai Rp91,5 Triliun dengan realisasi pencapaian 106,8 persen dari target RBB, atau tumbuh sebesar 11 persen," tutur Agus.

Sementara, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp74,7 triliun atau 110,4 persen dari target RBB, dengan pertumbuhan 16,6 persen. Struktur pendanaan disebut semakin sehat dengan rasio CASA mencapai 48,93 persen.

Sementara penyaluran kredit Bank Jakarta mencapai Rp57,9 triliun atau 106,7 persen dari target RBB. Agus menegaskan penyaluran kredit tetap dikelola secara hati-hati dengan rasio kredit bermasalah yang terjaga. (Far/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya