Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BERDASARKAN rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi DKI Jakarta mencatat inflasi sebesar 0,33% (mtm) pada Desember 2025, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,27% (mtm). Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,64% (mtm) dan menjadi yang terendah di pulau Jawa. Inflasi Jakarta pada periode ini terutama didorong oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, kelompok Transportasi, serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan, dengan perkembangan tersebut, inflasi Jakarta sepanjang 2025 tetap terkendali di angka 2,63% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional mencapai 2,92% (yoy), serta tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1% (yoy).
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi pada bulan ini dengan inflasi sebesar 1,07% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,20% (mtm).
"Tekanan inflasi bersumber dari kenaikan harga daging ayam ras dan cabai rawit, seiring meningkatnya permintaan menjelang HBKN Nataru, kenaikan harga live bird, serta terbatasnya pasokan cabai rawit dari daerah sentra akibat tingginya curah hujan," kata Iwan dalam keterangannya, Selasa (5/1).
Di sisi lain, tekanan inflasi kelompok ini tertahan oleh penurunan harga cabai merah seiring meningkatnya pasokan dari sejumlah daerah sentra yang memasuki musim panen. Sementara itu, komoditas ikan mas dan susu cair kemasanjuga mencatat penurunan harga namun dengan andil yang sangat kecil (~0).
Kelompok Transportasi turut mencatat inflasi sebesar 0,65% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,29% (mtm). Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian BBM non-subsidi per 1 Desember 2025, serta meningkatnya penggunaan angkutan antar kota selama periode HBKN Nataru.
Sementara itu, emas perhiasan masih menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Jakarta dengan angka sebesar 1,59% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,73% (mtm). Pergerakan harga emas perhiasan ini sejalan dengan perkembangan harga global yang bertahan pada level tinggi, meskipun dengan laju kenaikan yang lebih moderat. Kondisi ini mendorong kelompok Perawataan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi sebesar 0,49% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,17% (mtm).
Tekanan inflasi Jakarta pada Desember 2025 tertahan oleh deflasi pada kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,06% (mtm), terutama dipengaruhi oleh penurunan harga telepon seluler dengan andil yang sangat kecil (~0).
Selain itu, kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga juga mencatat deflasi 0,04% (mtm) seiring penurunan harga pengharum cucian/pelembut.
"Terkendalinya inflasi Jakarta tidak terlepas dari sinergi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta, khususnya menjelang periode HBKN Nataru," jelas Iwan.
Pada awal Desember 2025, telah diselenggarakan High Level Meeting (HLM) TPID yang dipimpin Gubernur DKI Jakarta untuk persiapan menjelang Nataru. Melalui forum tersebut, TPID berkomitmen memperkuat pengamanan pasokan, percepatan distribusi, pemantauan harga, serta intensifikasi sidak pasar.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan penyelenggaraan berbagai program strategis, antara lain Program Pangan Bersubsidi dan berbagai Program Pangan Murah. Pada periode ini, Perumda Pasar Jaya menyelenggarakan Pangan Murah dengan menghadirkan cabai asal Aceh, serta diselenggarakan kegiatan Aksi Cabai Harga Petani yang dilakukan TPID Provinsi DKI Jakarta bersama Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan sebagai upaya stabilisasi harga cabai.
Selain itu, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta melakukan kunjungan ke Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Senen, serta TPID bersama Dinas KPKP melaksanakan monitoring pasar tradisional dan ritel, termasuk pengawasan keamanan pangan. Penguatan ketahanan pangan juga terus didorong melalui kegiatan urban farming, termasuk tanam serentak PKK dan bimbingan teknis.
Dari sisi distribusi, TPID bersama Gubernur DKI Jakarta melepas pendistribusian sembako ke Kepulauan Seribu sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas pasokan pangan menjelang Nataru.
"Dalam kegiatan tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta berkontribusi melalui fasilitasi penyewaan tiga kapal angkut barang. Selain itu, BUMD pangan juga terus melakukan pengiriman rutin menggunakan armada truk hingga menjangkau rumah susun," tutur Iwan.
Penguatan komunikasi publik juga terus dilakukan, khususnya menjelang Nataru, melalui penyebarluasan iklan layanan masyarakat mengenai belanja bijak yang melibatkan pimpinan daerah/lembaga di radio dan media sosial.
Bank Indonesia turutmemberikan edukasi kepada masyarakat melalui podcast Rabu Belajar Pemprov DKI Jakarta dengan tema 'Belanja Hemat dengan Transaksi yang CEMUMUAH (Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal)'.
Ke depan, sinergi strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan. Upaya tersebut juga didukung oleh pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai langkah nyata pengendalian harga pangan. Dengan sinergi tersebut, capaian inflasi Jakarta yang terkendali pada 2025 diharapkan dapat terus dipertahankan pada tahun ini. (E-4)
BPS mencatat inflasi Jakarta pada April 2025 sebesar 1,44%, terutama bersumber dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kelompok perawatan pribadi dan jasa
BANK Indonesia Perwakilan DKI Jakarta memprediksi ekonomi Jakarta tahun ini tetap tumbuh solid. Pertumbuhan ekonomi DKI tahun ini pun diprediksi berkisar pada 4,6% hingga 5,4%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved