Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
HINGGA awal Oktober 2025, belum ada satu pun dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta yang mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Padahal, sertifikat tersebut kini menjadi syarat wajib untuk menjamin keamanan dan kelayakan pengolahan makanan bagi siswa.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengungkapkan bahwa seluruh 180 dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ibu Kota masih dalam proses pemenuhan persyaratan sertifikasi.
"Kalau yang berbasis sertifikat belum ada, sedang berproses semua," kata Ani dikutip dari Antara, Sabtu (4/10).
Ani menjelaskan, sejak awal pihaknya telah melakukan inspeksi ke sejumlah dapur MBG dan mendorong agar pemenuhan persyaratan SLHS segera diselesaikan.
Untuk mempercepat proses tersebut, Dinkes DKI menggandeng Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan SPPG guna mempercepat penerbitan SLHS. Langkah ini disertai inspeksi ulang terhadap kesehatan lingkungan dapur secara menyeluruh.
"Kami sedang berkolaborasi dengan SPPG termasuk juga PTSP untuk percepatan penerbitan SLHS. Jadi secara masif kami akan melakukan inspeksi kesehatan lingkungan ulang," kata Ani.
Kewajiban memiliki SLHS diberlakukan pemerintah pusat sejak September lalu sebagai tindak lanjut atas terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan di sejumlah daerah penerima program MBG.
Di Jakarta, ada 60 siswa dari 10 lokasi sempat mengalami keracunan akibat konsumsi makanan dari program tersebut. Berdasarkan hasil laboratorium, sebagian besar kasus disebabkan oleh kontaminasi bakteri.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya percepatan penerbitan SLHS di seluruh dapur MBG untuk memastikan standar kebersihan, keamanan, dan kualitas SDM pengelola makanan.
Menkes menargetkan percepatan ini rampung dalam waktu sebulan. Karena itu, pemerintah daerah dan BGN dilibatkan untuk mengawasi proses persiapan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan hingga penyajian makanan.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat sudah ada lebih dari 100 dapur MBG di berbagai daerah yang berhasil memperoleh SLHS. (Ant/P-4)
SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan, tetapi juga pusat edukasi gizi, pelayanan masyarakat, dan penguatan ketahanan pangan lokal.
Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati menegaskan pengawasan ketat bahan baku dan alat dapur SPPG guna mencegah insiden keamanan pangan pada program Makan Bergizi Gratis.
WAKIL Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang menyerukan agar mitra tidak lepas tanggung jawab terhadap pelaksanaan dapur SPPG
Pemerintah mencatat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin meluas cakupannya dengan jumlah penerima manfaat yang kini telah menembus angka 60 juta orang
Dewan Pendidikan Kota Pematangsiantar Robert Tua Siregar mengatakan program ini dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak.
Dalam upaya memberdayakan para penjual makanan di sekitar sekolah penerima manfaat MBG, mitra bisa bekerja sama dengan pengawas gizi di setiap SPPG.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, tegas berikan tenggat waktu sebulan untuk pendaftaran SLHS, atau sanksi suspend bagi SPPG di Banyumas.
Alokasi SPPG di Kota Tasikmalaya sebanyak 74, dengan 65 SPPG sudah berdiri dan seluruhnya belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Saat ini baru 35 SPPG aktif berjalan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved