Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Turun ke Jalan karena Urusan Perut

Sri/Gan/Put
29/4/2016 00:15
Turun ke Jalan karena Urusan Perut
(MI/RAMDANI)

NASIB Sanggar si Pitung, yang merupakan sanggar seni Betawi ondel-ondel, kini terseok.

Permintaan pertunjukan makin hari kian susut, tidak lagi seperti masa kejayaan mereka pada 1970 sampai 1980-an, yaitu ketika ondel-ondel menjadi pertunjukan di setiap acara pemerintah daerah untuk menyambut tamu dan di acara-acara pernikahan.

Pertunjukan ondel-ondel masih rajin dipentaskan terakhir kali pada 2007.

"Pada 2007, seminggu kami masih bisa beberapa kali pentas. Namun, memasuki 2014 sampai sekarang, satu bulan sekali pun belum bisa tampil karena peminat seni ondel-ondel sudah jarang," ujar seniman Betawi dari Sanggar si Pitung, Bachrudin, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Kondisi itu membuat pendapatannya dari hasil pentas ondel-ondel pun tidak tentu.

Untuk sekali pentas, Sanggar si Pitung mematok harga Rp3,5 juta untuk kegiatan arak-arak, sedangkan untuk pajangan Rp800 ribu.

"Sekarang banyaknya cuma dipajang di depan gerbang. Cuma jadi simbol," keluhnya.

Akibatnya, seni tari, musik, dan nilai-nilai seni yang terkandung dalam pertunjukan ondel-ondel jadi kurang tersampaikan

Ia berharap pemerintah bisa memberikan perhatian khusus pada seni ondel-ondel ini.

"Perlu wadah khusus supaya ketersediaan pengetahuan seni ondel-ondel bisa sampai ke kaum muda."

Sementara itu, pegiat budaya Betawi, Ki Samen, mengaku sedih ketika melihat ondel-ondel digunakan untuk mengamen.

Namun, kadang hal itu terpaksa dilakukan para seniman dalam kondisi tertentu.

Misalnya, kata dia, di Sanggar Laskar Betawi Bekasi (LBB) di Bojong Menteng, anggota sanggar pernah mengarak ondel-ondel untuk penggalangan dana.

Saat itu ada anggota sanggar yang terancam putus sekolah lantaran tidak memiliki biaya.

"Saat butuh, akhirnya dipakailah ondel-ondel itu untuk mengamen. Ketika ada teman yang susah, anak-anak sanggar lainnya bergerak saling bantu semampu mereka," kata dia.

Di lain pihak, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Catur Laswanto mengaku cukup sulit menyelesaikan masalah pengamen ondel-ondel.

Saat ini, menurutnya, kebutuhan masyarakat ialah yang menjadi faktor hadirnya pengamen ondel-ondel.

"Pada satu sisi, para pengamen ondel-ondel itu mungkin ingin mencari nafkah sekaligus memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas. Namun, memang tempat dan waktunya yang di jalanan itu yang kurang pas," tuturnya.

Saat ini pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menggelar kompetisi produk budaya Betawi yang akan digelar tahun depan.

Melalui kegiatan itu, kata dia, sanggar-sanggar budaya yang ada bisa meningkatkan kemauan untuk melestarikan budaya, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, termasuk untuk kesenian ondel-ondel.

"Itu arahan Pak Gubernur agar semua sanggar itu maju. Salah satunya melalui kompetisi untuk menjaring mana yang bagus dan menimbulkan motivasi untuk terus meningkatkan pembinaan kebudayaan," ujarnya.

Catur berharap, dengan adanya kompetisi, anak-anak yang selama ini memainkan ondel-ondel untuk mengamen dapat menyalurkan minat mereka terhadap budaya Betawi agar lebih tertata.

"Kalau nanti sudah ada kompetisi dan tahu mau kita arahkan ke mana, mereka dengan sendirinya berhenti dan mau belajar lebih baik supaya lebih dilirik," tutupnya. (Sri/Gan/Put/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya