Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
MATA Dina, 25, langsung membelalak ketika melihat sebuah bus gandeng yang berhenti di depan halte Trans-Jakarta, kemarin pagi. Berbeda dari lainnya, bus baru keluaran Trans-Jakarta itu didominasi warna merah muda (pink).
"Warnanya perempuan banget," kata Dina semringah.
Karyawan swasta asal Cirebon, Jawa Barat, yang indekos di daerah Karet, Jakarta Pusat, itu lebih takjub lagi ketika mengetahui hanya penumpang perempuan yang boleh naik bus jurusan Jakarta Kota tersebut.
"Di sini terlihat adanya keberpihakan Pemerintah DKI kepada perempuan. Terus terang, saya seperti diistimewakan," ujarnya.
Ia mengaku kemarin sengaja menunggu kedatangan bus itu karena ingin mencobanya. Saat bus diluncurkan pada Kamis (21/4) lalu yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Dina belum berkesempatan mencobanya.
Tak cuma tampilan luar yang disebutnya girly, tampilan dalam bus pun membuatnya terkejut. Selain awak bus, mulai pengemudi hingga petugas on board yang semuanya perempuan, kursi penumpang kini tidak lagi berada di sisi kanan-kiri bus, tetapi berjejer 2-2 menghadap ke depan semua.
"Sekarang lebih enak, kemungkinan dapat duduk jadi lebih besar. Akan tetapi, seperti bukan naik Trans-Jakarta saja karena biasanya tempat duduknya berhadap-hadapan," kata Dina.
Ia menyambut gembira kehadiran bus itu karena memberi kenyamanan bagi penumpang perempuan yang rentan dengan perilaku pelecehan seksual di angkutan umum. Namun, sambungnya, jumlah bus tersebut harus diperbanyak mengingat jumlah perempuan yang menggunakan bus Trans-Jakarta juga sangat banyak.
"Kalau jumlahnya sedikit, keberadaan bus khusus perempuan kurang terasa manfaatnya. Apalagi di jam sibuk, bus khusus itu harusnya ditambah karena tidak sedikit perempuan yang risih kalau harus berdiri berdesakan dengan lawan jenis," kata dia.
Saat peluncuran, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan kehadiran bus khusus itu bertujuan menjawab kegelisahan para penumpang perempuan yang risih jika berimpitan dengan lawan jenis. Keberadaan area khusus perempuan di dalam bus saat ini dirasa masih belum cukup karena jumlah penumpang perempuan cukup besar, yakni 35% sampai 40% dari total penumpang di seluruh 12 koridor Trans-Jakarta.
"Saya menyadari ada yang tidak mau berimpitan dengan pria karena tak nyaman dan takut. Sebagian lagi tidak mau karena pandangan agama, bukan muhrim. Maka itu saya pikir inovasi ini harus ada," ujar mantan Bupati Belitung Timur itu.
Meski demikian, saat ini pihaknya baru bisa mengadakan dua unit bus khusus perempuan itu. (Putri Anisa Yuliani/J-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved