Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Mempertahankan Roh Indonesia

Gan/Beo/Wan
22/4/2016 00:15
Mempertahankan Roh Indonesia
(MI/Adam Dwi)

TINGGAL di apartemen merupakan budaya baru bagi warga Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang guyub, saling menolong, dan bergotong royong bisa menjadi individualistis saat tinggal di apartemen.

"Orang-orang dari luar yang mau berkunjung ke apartemen harus janjian, harus melalui izin sekuriti. Antarpenghuni juga tidak saling kenal karena setiap saat penghuni bisa berubah. Itu mendorong orang cenderung individualistis," ujar pengamat tata kota, Yayat Supriatna, kemarin.

Agar terbina interaksi antarindividu masyarakat, menurutnya, layanan publik merupakan salah satu medianya.

Saat ini masih banyak apartemen yang berdiri tanpa memiliki sarana dan prasarana itu.

"Yang harus ditambahin itu sarana umum untuk bermasyarakat, seperti sarana transportasi. Jadi, para penghuni lebih banyak membawa kendaraan pribadi, padahal lebih bagus pakai angkutan umum. Karena itu, harus dibangun sistem untuk mereka menggunakan fasilitas umum," jelasnya.

Lebih bagus lagi, lanjutnya, setiap apartemen yang dibangun di Jakarta itu harus terintegrasi dengan sarana dan fasilitas publik.

Hal itu dilakukan karena apartemen tidak boleh dibangun tanpa layanan publik, seperti layanan kesehatan dan pendidikan.

Ketua Paguyuban Apartemen Mutiara, Dadang Nurwaman, mengakui kehidupan individualistis antarpenghuni apartemen nyaris tak bisa diubah bila tak ada pelopor penggeraknya.

Karena menyadari hal itu, penghuni Apartemen Mutiara membentuk paguyuban dua tahun lalu.

Itu merupakan wadah penghuni untuk memenuhi kehidupan sosial mereka, misalnya, jika ada kematian, ada penghuni yang sakit, dan termasuk acara ramah tamah.

Setiap bulan, lanjut Dadang, warga apartemen biasa berkumpul di sekitar kolam renang untuk arisan.

Dari situlah, satu sama lain berusaha kenal agar acara arisan itu tetap berjalan.

Memang acara arisan tidak seperti di lingkup RT.

"Tak mungkin mereka percayakan uang mereka kepada orang yang tidak dikenal. Saat datang, bayar arisan dan dikocok," ungkap Dadang.

Saat Ramadan, lanjut dia, selalu ada agenda rutin dari dan oleh penghuni apartemen, misalnya, buka puasa bersama yang dilakukan di masjid yang terletak di tengah lingkungan apartemen.

Suplai makanan yang ada pun diupayakan bergilir.

Para penghuni muslim bergiliran menyuplai makanan sesuai dengan jadwal.

"Sebisa mungkin kita berupaya kenal satu sama lain. Seusai buka bareng, pasti dilanjutkan dengan tarawih berjemaah," ujar dia.

Namun, saat Idul Fitri, umumnya penghuni memilih pulang kampung.

Baru kala Idul Adha keakraban kembali terjalin dengan pemotongan hewan kurban di lingkungan apartemen.

Daging kurban dibagikan juga kepada warga sekitar apartemen.

Di Apartemen Green Pramuka City, Jakarta Pusat, Nadi, salah satu pengelola, menyebutkan area nonhunian yang mencapai 80% digunakan untuk interaksi antarpenghuni. (Gan/Beo/Wan/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya