Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Keluargaku di Apartemen

Akmal Fauzi
22/4/2016 00:01
Keluargaku di Apartemen
(MI/ADAM DWI)

MARAKNYA apartemen dalam satu dekade terakhir di Indonesia membuat pergeseran budaya lokal.

Sosialisasi antarpenghuni apartemen yang minim sehingga terkesan individualistis sangat kental.

Bagi psikolog sosial dari UGM, Yugiani Sugiarto, seharusnya tinggal di apartemen tak membuat penghuninya menjadi semakin individualistis.

Ada kegiatan di apartemen yang seharusnya bisa membuat penghuninya tetap bisa bersosialisasi.

Sugiarto menyebutkan, beberapa sarana, seperti fitness center, kolam renang, jalur joging, taman bermain, minimarket, restoran, dan kafe, bisa menjadi tempat untuk bersosialisasi.

Apartemen tidak membatasi individu untuk bersosialisasi, justru menyesuaikan dengan kebutuhan penghuninya.

Dengan demikian, tradisi kehidupan bertetangga tidak lenyap.

"Mereka yang tinggal di apartemen masih bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Hanya, terkadang mereka memiliki kesibukan masing-masing di luar apartemen, seperti bekerja. Solusi agar bisa terjalin interaksi antarsesama penghuni apartemen ialah berikan mereka ruang dan kegiatan terjadwal," imbuh Sugiarto.

Di mata sosiolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Musni Umar, sikap individualisme penghuni apartemen merupakan dampak negatif dari modernisasi.

Padahal, manusia ialah makhluk sosial, tidak mungkin hidup tanpa orang lain.

Model hunian vertikal, jelas Musni, memang memberikan sekat tinggi antara penghuni satu dan lainnya.

Sekat bisa dikurangi dengan sikap proaktif dari pengelola untuk melibatkan partisipasi warga, khususnya melibatkan mereka dalam berbagai momen perayaan libur nasional, seperti peringatan hari kemerdekaan pada 17 Agustus.

"Kalau sekarang, hubungan antara pengelola dan penghuni itu hanya sebatas fasilitasnya jalan atau bayar atau tidak. Tidak ada hubungan pendekatan sosial. Memang ada ketakutan pengelola khawatir mengganggu privasi. Itu bisa diatasi melalui pendekatan sosial yang baik," katanya.

Pemerintah, dinilai Musni, harus terlibat melalui pengelola.

Tujuannya melibatkan warga apartemen agar bisa bersosialisasi seperti pola RT dan RW.

Mereka ialah wakil terkecil pemerintah yang terdekat.

Cara-cara itu akan ampuh jika dilakukan bersama-sama dan terus-menerus.

Pemerintah dan pengelola harus bergerak cepat sebelum warga telanjur terlalu lama meneruskan sikap individualistis itu.

"Menurut saya, suasana ke-Indonesia-an harus dibangun. Suasana gotong royong, saling mengenal, membantu, melindungi harus dibangun. Pemerintah bisa lakukan itu lewat pengembang," ujar Musni.

Interaksi diciptakan

Dua tahun tinggal di Tower Mawar, Green Palace Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, bagi Bunga Mikana Nayful, 32, lebih hangat daripada sebelumnya.

Bunga bisa mengenal penghuni yang tinggal di lantai berbeda, bahkan di menara yang berbeda.

"Dulu saya tinggal di perumahan di Cempaka Putih. Interaksi (dengan tetangga) monoton saja, jarang juga. Jujur ya secara pribadi saat saya tinggal di apartemen. Bukan hanya satu tower, di tower lain saya juga bisa kenal dan akrab," ungkapnya.

Awalnya, ia kesepian tinggal di apartemen.

Namun, saat ia mencoba berkeliling fasilitas di apartemen, seperti taman atau pun kafe, di situlah Bunga kenal dengan banyak penghuni lain.

"Awal-awal memang cuma di dalam unit. Lalu saya ke kafe, kenal dengan yang lain, ada playground (taman), kenal dengan yang lain lagi, ngobrol hingga sampai akrab banget," jelasnya.

Menurutnya, fasilitas pendukung yang ada di apartemen berpengaruh terhadap interaksi dengan sesama penghuni.

Saat ditemui, Bunga tengah berkumpul dengan penghuni lainnya sembari menjaga anaknya yang masih balita di kafe yang letaknya berada di bagian bawah tower miliknya.

Temannya itu justru bukan dari kalangan ibu-ibu.

Saban sore dia berkumpul dengan anak-anak muda yang tinggal di tower-tower yang berbeda.

"Begitulah menariknya, enggak cuma yang sudah punya anak kenal dengan yang punya anak. Yang punya anak kenal dengan yang anak-anak muda kaya kami," kata Raymon, 23, teman Bunga yang baru tinggal tiga bulan di Tower Nusa Indah.

Bunga menuturkan, setiap minggunya selalu ada kegiatan yang diadakan pengelola ataupun komunitas warga apartemen.

Kegiatan itu juga merupakan sebuah upaya untuk menciptakan kehangatan antarsesama penghuni.

Hal senada dikatakan, Arpan, 41, penghuni Apartemen Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan. Seusai kerja, dirinya kerap menghabiskan waktu di kafe yang ada untuk sekadar merampungkan pekerjaan.

"Nongkrong, ngopi, buka laptop selesain pekerjaan, lalu kenal dengan penghuni lain bisa tambah relasi saya. Oh dia kerjanya di bagian ini, terbantu, kebangun relasi juga," kata Arpan, pegawai salah satu perusahaan konsultan komunikasi.

Lain halnya Abdullah Surjaya, 35, penghuni Apartemen Mutiara Bekasi.

Ia mengaku terpaksa tinggal di apartemen karena tuntutan pekerjaan.

Sudah dua tahun rumahnya di Kota Bogor hanya dikunjungi saat liburan.

"Kalau hidup di sini memang beda. Kita keluar kalau ada perlunya saja, misalnya kerja, beli sesuatu, olahraga, seperti berenang di kolam renang milik apartemen," ungkap Abdullah. (Put/Sri/Gan/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya