Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 215 lapak tersedia di Pasar Musi, Jalan Banyuasin Raya, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, hingga saat ini belum dihuni oleh pedagang.
Kepala bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok Median Zahedi mengatakan sebanyak 215 los dan kios tidak laku.
Ia mengatakan, mestinya bangunan itu ditempati pedagang. Karena bangunan yang dibangun Pemerintah Kota Depok itu dikhususkan bagi pedagang lapak emperan dan trotoar jalan Banyuasin Raya.
Namun, pedagang tersebut mengaku lebih nyaman berjualan di lapak emperan dan trotoar tersebut.
"Sebenarnya berjualan di bangunan pasar lebih nyaman. Terlebih saat hujan, pedagang tidak basah-basahan. Selain itu, los dan kios juga bisa tempat penyimpanan barang dagangan," kata Median, Jumat (12/3).
Dalam penjelasannya, ia mengatakan 215 los dan kios di Pasar Musi sudah bertahun-tahun kosong tak berpenghuni. Ratusan pedagang yang berjualan di lapak emperan dan trotoar Jalan Banyuasin, tak berminat berjualan di bangunan Pasar Musi, yang disiapkan pemerintah tersebut.
Alasannya, jika berjualan di lapak Pasar Musi, jarang ada pengunjung yang mampir membeli. Para pedagang lebih memilih berjualan di lapak emperan dan trotoar yang lebih mudah dijangkau pembeli.
"Kami (pemerintah) telah maksimal melakukan cara agar pedagang bersedia menempati los dan kios yang ada. Cara yang dilakukan yakni membuka pameran ikan hias sehingga menjadi kekuatan ekonomi kota," ujar dia.
Baca juga: Tak Ada Pedagang, Vaksinasi Covid di Pasar Musi Depok Ditiadakan
Sementara itu, seorang pedagang bumbu Sri Hariani mengatakan tak mau pindah karena sudah lebih nyaman berjualan di lapak emperan dan trotoar Jalan Banyuasin Raya.
"Kami sudah bertahun-tahun berjualan di lapak emperan dan trotoar, kami tentunya sudah banyak pelanggan. Kami sudah nyaman dengan lokasi jualan ini," ucap Sri.
Selain nyaman, pedang tidak bayar retribusi dan sewa/kontrak lapak.
"Kami tak sepeser pun membayar sewa lapak," imbuhnya.
Terkait terkena basah jika hujan turun, Sri mengaku hal tersebut sudah biasa.
"Untuk menyiasati supaya tidak kehujanan, kami pasang tenda, lagi pula yang berjualan di lapak emperan dan trotoar mayoritas warga yang tinggal di Jalan Banyuasin Raya kok," tukasnya.
Ia mengakui Pemerintah Kota Depok melalui petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) telah berkali-kali melakukan penertiban. Bahkan mengimbau supaya berjualan dan menempati bangunan los dan kios yang dibangun pemerintah di Pasar Musi.
"Namun kami tolak, kami tetap bertahan karena konsumen lebih mudah berbelanja di lapak emperan dan trotoar. Dibandingkan harus masuk ke bangunan pasar," pungkasnya.(OL-5)
Revitalisasi mesti diarahkan pada konsep pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit-Oriented Development (TOD).
Kondisi ini tidak hanya merusak estetika pasar, tetapi juga mulai mengancam kesehatan pedagang dan pengunjung.
Holding UMKM Expo 2025 bertema "Ekosistem Bisnis UMKM Kuat, Siap Menjadi Jagoan Ekspor” menjadi wadah yang sangat baik untuk perkembangan UMKM.
Pasokan sering kosong karena tidak adanya panen di sejumlah sentra pertanian akibat intensitas hujan tinggi.
SEJUMLAH pedagang mengeluhkan harga sejumlah komoditas pangan yang masih mahal saat Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Pasar Jagasatru.
Keterbatasan pada aspek kemasan, pengelolaan merek, dan strategi pemasaran membuat produk unggulan desa tersebut belum mampu bersaing di pasar modern maupun digital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved