Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT sosial dari Universitas Indonesia Devi Rahmawati menyebut ada banyak faktor yang memengaruhi masyarakat Jakarta untuk tidak lagi mewaspadai covid-19 dan membuat kasus covid-19 makin merangkak naik.
Salah satu faktornya adalah konsumsi informasi tentang covid-19 yang mulai dikurangi. Menurut penelitiannya pada tahun lalu, Devi menemukan masyarakat sengaja menghindari mencari atau membaca informasi tentang covid-19. Hal tersebut dilakukan karena takut.
Baca juga: Saat Anies Disejajarkan dengan Pendiri Tesla dalam 21 Heroes 2021
"Buat saya dosen dan anda sebagai wartawan anda tahu berapa banyak kasus covid sampai sekarang. Tetapi sebagian masyarakat yang tidak mau cari tahu, ya mereka tidak tahu sudah segawat apa kondisinya sekarang. Dampaknya, mereka tidak lagi menyadari bahwa covid-19 masih ada di sekitar kita. Dampak lainnya mereka jadi masa bodoh dengan keadaan," ungkap Devi saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (5/2).
Faktor kedua yang membuat warga terlihat santai menghadapi covid adalah karena di masyarakat tidak terjadi fenomena yang luar biasa. Seperti di jalan dan di pasar, kondisi aktivitas masyarakat bergerak seperti biasa.
"Berbeda dengan di luar negeri di mana ada pemandangan jalan dibarikade oleh tentara, jalanan sepi karena ditutup dan warga tidak boleh keluar rumah sama sekali. Di sini kan itu tidak terjadi. Jadi ya menurut mereka akhirnya tercipta 'mindset' tidak perlu khawatir," jelas Devi.
Manusia adalah makhluk indrawi. Sementara penyakit covid-19 yang bermunculan dan begitu mirip dengan penyakit-penyakit lainnya membuat masyarakat kesulitan memercayai covid-19.
"Beda dengan sakit lain seperti DBD yang kita tahu gejalanya demam ada ruam, Hepatitis ada kuning, cacar ada luka, covid ini tidak tahu seperti apa. Masyarakat tidak lihat. Padahal manusia itu 'we believe what we see'. Jadi karena tidak kelihatan ya banyak yang tidak percaya," tuturnya.
Ia melanjutkan sikap naluriah manusia juga yang tidak ingin berbeda dengan orang lain membuat masyarakat tidak patuh terhadap protokol kesehatan. Karena rata-rata warga melihat lingkungan sekitarnya yang bersikap biasa saja terhadap prokes.
"Kalau saya mengistilahkannya bukan tidak patuh ya, tetapi mereka bersikap fleksibel. Akhirnya fleksibel tidak mengikuti peraturan tapi saat mereka merasa perlu, ya mereka akan memakai (masker), begitu," ungkapnya.
Faktor terakhir yang menjadi pemicu masyarakat tidak waspada terhadap covid-19 adalah hoaks yang bertebaran dan hingga saat ini belum mampu ditangani oleh pemerintah.
Sementara itu hingga 4 Januari total kasus covid-19 di Jakarta mencapai 283.893 kasus. Dari jumlah total kasus tersebut, total orang dinyatakan telah sembuh sebanyak 254.155 dengan tingkat kesembuhan 89,5%. Total 4.461 orang meninggal dunia dengan tingkat kematian 1,6%, sedangkan tingkat kematian Indonesia sebesar 2,8%. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved