Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Ade Yasin: Zona Merah di Bogor Jadi 16 Kecamatan

Dede Susianti
19/4/2020 11:47
Ade Yasin: Zona Merah di Bogor Jadi 16 Kecamatan
Buapti Bogor Ade Yasin (tengah)(ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

BUPATI Bogor Ade Yasin menjabarkan kondisi perkembangan penyebaran virus korona (covid-19) di wilayah yang dipimpinnya. Dia menyatakan covid-19 di Kabupaten Bogor masih sangat berbahaya. Penularannya masih terjadi.

Hal itu disampaikan Bupati Ade dalam keterangan pers tertulis melalui WAG (Whatsapp grup) media, Minggu (19/4) pagi.

"Setiap hari bertambah orang yang terkonfirmasi positif korona atau covid-19. Saya ingin menunjukkan data seminggu terakhir," katanya.

Pada 10 April, ada 29 orang positif korona, 11 April 33 orang, 12 April 36 orang, 13 April 38 orang, 14 April 45 orang, 15 April 50 orang, 16 April 52 oang, dan 17 April 56 orang.

Baca juga: Saling Peduli dengan Gerakan Nasi Bungkus Menggeliat di Bogor

"Setiap hari ada yang tertular. Sampai 17 April 2020, sudah 16 kecamatan masuk zona merah covid-19," ungkap Ade yang juga menjabat Ketua DPW PPP Jawa Barat itu.

"Dari data yang ada, dapat disimpulkan di 16 kecamatan, selain ada positif korona, ada juga PDP (pasien dalam pengawasan), dan sudah barang tentu ada yang berstatus ODP (orang dalam pemantuan)," tambahnya.

Adapun ke-16 kecamatan yang masuk ke zona merah itu adalah Kecamatan Cibinong, Kecamatan Gunungputri, Kecamatan Bojonggede, Kecamatan Cileungsi, Kecamatan Ciampea, Kecamatan Babakanmadang, Kecamatan Citereup, Kecamatan Kemang, Kecamatan Parungpanjang, Kecamatan Tajurhalang, Kecamatan Ciawi, Kecamatan Ciomas, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Gunungsindur, Kecamatan Jonggol dan Kecamatan Leuwisadeng.

Di Kabupaten Bogor, ada sebanyak 40 kecamatan. Dari ke-40 kecamatan itu, Ade menjelaskan, hingga saat ini, hanya di Kecamatan Cijeruk tidak ada ODP, tidak ada positif, tetapi ada 7 orang PDP.

"Hanya tiga kecamatan yang agak aman karena tidak ada positif dan tidak ada PDP. Tetapi tentu saja belum aman sepenuhnya. Karena di tiga kecamatan itu, terdapat beberapa orang yang berstatus ODP. Kecamatan Tenjo ada 2 orang ODP, Kecamatan Sukamakmur 2 orang ODP dan Kecamatan Tanjungsari ada 3 orang ODP. Jika tidak ada upaya-upaya serius, saya khawatir jumlah warga Kabupaten Bogor yang terkonfirmasi positif korona akan terus bertambah," ungkapnya.

Kekhwatirannya bertambah sekarang dengan adanya yang disebut OTG (orang tanpa gejala). OTG, katanya, adalah orang sudah tertular korona, tetapi tidak menunjukkan gejala sudah tertular seperti batuk, pilek, demam, sesak dan lain sebagainya.

OTG tidak bisa dipandang remeh, karena menurut informasi, OTG cukup banyak menularkan korona kepada orang lain.

"Upaya serius itu tidak bisa hanya dilakukan pemerintah saja, melainkan harus bersama dengan masyarakat. Basisnya adalah masyarakat, orang per orang. Ibarat perang, perang melawan korona harus seperti perang semesta di mana seluruh rakyat ikut berperang," tegasnya.

Dia menjelaskan, korona tidak bisa berjalan, tidak bisa terbang. Proses penularan terjadi dari satu orang ke orang lain. Korona tidak akan masuk ke rumah-rumah, kecuali ada orang yang membawanya.

Perang melawan korona, katanya, sama dengan perang melawan diri sendiri menghindari kerumunan. Kerumunan dalam hal ini harus ditafsirkan sebagai jebakan korona. Kerumunan harus ditafsirkan sebagai perangkap korona, karena di kerumunan besar potensi tertular. Orang yang tidak mampu melawan diri sendiri menghidari kerumunan, maka dia masuk ke dalam jebakan korona.

"Karena itulah lalu ada PSBB, untuk membantu masyarakat melawan diri sendiri. Karena itu pula pemerintah tidak bosan-bosannya mengatakan bahwa kunci menghindari penularan adalah dengan menghindari kerumunan, menjaga jarak, sosial distancing dan physical distancing. Itu pula sebabnya pemerintah tidak bosan mengimbau tinggallah di rumah, diamlah di rumah," tutupnya. (OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya