Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KUALITAS udara di Jakarta pada Minggu (29/9) sore diprediksi tidak sehat. Hal ini berdasarkan data AirVisual, US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara di Jakarta tercatat diangka 141 PM2.5 Konsentrasi 52 µg/m³ pada pukul 15.22 WIB.
Menurut data tersebut di antara 91 kota besar di seluruh dunia, Jakarta menempati urutan 10 sebagai kota paling tercemar.
Ditempat pertama dengan kota paling buruk kualitas udaranya saat ini ialah Kuwait dengan angka sebesar 171. Lalu diikuti dengan kota Chengdu, Tiongkok, dengan angka 164, tempat ketiga ada Shenyang, Tiongkok tercatat kualitas udara terburuk di angka 161.
Kota lainnya yang tercatat memiliki kualitas udara terburuk ialah Lima, Peru. Lalu ada Tashkent, Uzbekistan, kemudian ada Shenzen , Tiongkok, lalu Hongkong dan peringkat kesembilan ada Hanoi, Vietnam.
Data AirVisual juga pernah mencatat Jakarta sebagai kota paling tidak sehat yang didunia pada (5/9) lalu. Jakarta menempati posisi pertama sebagai kota yang memiliki kualitas udara terburuk di dunia dengan US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara di angka 181 atau setara parameter PM2.5 dengan konsentrasi polutan 114.3 µg/m³.
Baca juga: Kebijakan Ganjil-Genap Perbaiki Kualitas Udara Jakarta
Selain data AirVisual, Media Indonesia coba menggunakan aplikasi Airlief yang juga mencatat kualitas udara di Jakarta di angka 124 atau unsatisfactory. Pun juga dengan aplikasi lain seperti BreezoMeter Air, kualitas udara Jakarta menunjukan angka paling rendah yakni 17 dari 100 poin.
Untuk menghindari masalah kesehatan yang ditimbulkan polusi udara, masyarakat disarankan menutup jendela, menggunakan pemurni udara, menghindari aktivitas di luar rumah, dan menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan.(OL-5)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa tantangan polusi di Ibu Kota semakin kompleks, sehingga regulasi lama seperti Perda Nomor 2 Tahun 2005 sudah tidak lagi memadai.
Penelitian terbaru mengungkap polusi udara telah ada sejak Kekaisaran Romawi Kuno.
Konsentrasi partikel halus () di Tangerang Selatan kerap melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Riset Northwestern University ungkap asap kayu di rumah menyumbang 20% polusi mematikan di AS.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved