Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Terhadang Moda Lama

M Iqbal Al Machmudi
08/4/2019 09:35
Terhadang Moda Lama
TransJakarta(MI/PIUS ERLANGGA)

TRANS-JAKARTA sudah kadung disukai warga. Murah, ruangan ber-AC, lebih tepat waktu karena tidak ngetem sembarangan, merupakan sejumlah alasan yang diungkapkan warga.

"Saya sudah meninggalkan angkot. Pakai angkot, waktu jadi tidak pasti dan kurang nyaman," papar Deddy Wijaya, 33, warga Kalideres, Jakarta Barat, yang sehari-hari menggunakan Trans-Jakarta untuk pergi ke tempat kerjanya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Seperti Deddy, ribuan warga Pondok Cabe juga mulai berpindah ke Trans-Jakarta ketika PT Transportasi Jakarta membuka rute baru Pondok Cabe-Tanah Abang. Rute bus bernomor S41 itu mulai dilayani pada 22 Maret lalu.

Warga tentu saja menyambut rute ini karena terintegrasi dengan Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Ratangga di Lebak Bulus. Sayangnya, bulan madu itu tidak bisa bertahan lama.

Kamis (4/4), para sopir angkot 106 yang beroperasi di jalur Parung-Lebak Bulus memprotes dengan cara berunjuk rasa. Manajemen PT Transjakarta terpaksa mengevaluasi kembali rute yang sudah telanjur dinikmati warga itu.

Baca Juga: 3 Tiga Bulan Lagi, Jalur TransJakarta Dipantau CCTV

"Setelah diprotes, Bus Trans-Jakarta S41 tetap beroperasi. Hanya, jalur yang dilayani dipangkas dari Tanah Abang hanya sampai Ciputat, tidak terus ke Pondok Cabe," ujar Koordinator Pusat Layanan Transjakarta, Junaidi, kemarin.

Namun, pemangkasan rute itu belum final. Hari ini (Senin), Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) akan memfasilitasi pertemuan pengusaha dan awak angkot dengan PT Transjakarta. Solusi terbaik diharapkan bisa dihasilkan.

Semrawut

Jawaban atas protes awak angkot 106 itu membuat para sopir bisa tersenyum lagi. Mukhsin, misalnya, mengaku pendapatannya bertambah.

"Saya bisa bawa pulang bersih Rp70 ribu, naik dari sebelumnya Rp50 ribu," tuturnya.

Selain penghasilan yang menurun, protes yang dilakukan awak angkot 106 atas operasi Trans-Jakarta S41 ialah cara pengambilan penumpang. "Bus mengambil penumpang seperti angkot, di pinggir jalan bukan di halte saja. Itu tidak sehat," ungkap Hasibuan Pandele, sopir angkot 106.

Setelah tidak harus berebut penumpang dengan bus Trans-Jakarta, para sopir angkot 106 tetap saja tidak bisa jemawa. Di Stasiun MRT Lebak Bulus, angkot berwarna biru itu harus bersaing dengan angkot Jak Lingko yang berwarna merah. Persaingan keduanya itu membuat kawasan di Lebak Bulus semrawut.

"Angkot Jak Lingko sering diberi kesempatan untuk berhenti lebih lama daripada kami. Di Stasiun MRT Lebak Bulus memang tidak disediakan kawasan untuk angkot, tapi kami nekat supaya dapat penumpang," tambah Hasibuan.

Gatot, sopir angkot Jak Lingko, mengakui meski secara aturan tidak boleh, dia dan kawan-kawan masih dapat kesempatan untuk mengambil penumpang dari Stasiun Lebak Bulus.

"Waktunya dibatasi hanya 3-5 menit. Kami lebih banyak mengambil penumpang di seberang halte Trans-Jakarta, yang memang dikhususkan sebagai kantong parkir," tandasnya. (J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : PKL
Berita Lainnya